Terungkap! Ilmuwan Akhirnya Temukan Alasan Perokok Berat Bisa Terhindar dari Kanker Paru-paru

foto
Alasan Perokok Berat Bisa Terhindar dari Kanker Paru-paru/ foto: Gemini
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Pernah heran melihat ada perokok berat yang tetap sehat hingga usia senja tanpa kena kanker paru-paru, sementara orang yang tak pernah menyentuh rokok justru divonis mengidapnya?

Hal yang sama juga kerap terlihat pada paparan sinar matahari—tak semua orang yang sering berjemur otomatis terkena kanker kulit.

Misteri besar medis ini akhirnya mulai terjawab. Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil membuktikan secara ilmiah bagaimana faktor genetik bawaan memengaruhi langsung cara kanker tumbuh dan berkembang di tubuh seseorang.

Baca Juga:Timnas Futsal Indonesia Terbang ke Spanyol, Hector Souto Pasang Target Besar Menuju Piala Dunia Futsal 2028Media Vietnam Terpukau Mitchell Baker, Striker Timnas Indonesia Langsung Dijuluki 'Pembunuh di Kotak Penalti'

Temuan mengejutkan ini dimuat dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature, sebagaimana melansir dari laporan Euronews.

“Studi ini memberi kita petunjuk menarik bahwa gen yang kita warisi mungkin memiliki pengaruh besar pada cara kanker berkembang setelah terjadinya kerusakan DNA,” ungkap Sam Godfrey, Kepala Informasi Penelitian di Cancer Research UK (CRUK).

Gen Bawaan ‘Mendikte’ Arah Perkembangan Tumor

Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menemukan fakta bahwa variasi genetik yang kita dapatkan dari orang tua bisa mengubah ‘jalur’ evolusi tumor setelah tubuh terpapar zat pemicu kanker (karsinogen).

Latar belakang genetik inilah yang menentukan mutasi apa yang akan muncul, bagaimana tumor berkembang, hingga bagaimana respon kanker terhadap pengobatan nantinya.

“Kami akhirnya bisa menunjukkan untuk pertama kalinya sejauh mana latar belakang genetik memengaruhi proses mutasi dan jalur yang mengarah pada perkembangan tumor,” jelas Duncan Odom, pemimpin riset tersebut.

Dosis Pemicu Sama, Hasil Akhir Berbeda

Untuk membuktikannya, para peneliti melakukan uji coba pada empat kelompok tikus dengan keragaman genetik yang dirancang mirip seperti manusia.

Tikus-tikus ini diberikan dosis zat pemicu kanker hati (dietilnitrosamin) yang persis sama pada usia 15 hari, dalam lingkungan yang terkontrol ketat. Sebagai informasi, zat ini juga banyak ditemukan dalam asap rokok dan beberapa makanan olahan.

Baca Juga:Katy Perry Ngamuk! Lagu Firework Dipakai Gedung Putih untuk Video Serangan ke Iran, Langsung Protes KerasMasa Depan Lionel Scaloni Terancam? Di Maria Memohon Pelatih Argentina Tak Mundur

Hasilnya cukup mencengangkan. Meski mendapatkan dosis pemicu yang sama di usia yang sama, jenis tumor yang tumbuh pada tiap kelompok tikus berkembang melalui jalur evolusi yang berbeda-beda, tergantung pada genetik bawaan masing-masing.

0 Komentar