3. Mengabaikan profil risiko sendiri
Setiap orang memiliki kemampuan dan kenyamanan yang berbeda dalam menghadapi risiko investasi. Sayangnya, banyak pemula mengikuti portofolio investor lain tanpa mempertimbangkan profil risiko dan kondisi keuangan pribadi.
Misalnya, kamu memiliki toleransi risiko rendah, tetapi justru menempatkan sebagian besar modal pada aset dengan pergerakan harga yang sangat fluktuatif. Ketika pasar turun, kamu mungkin panik dan menjual aset pada waktu yang kurang tepat.
Sebelum melakukan diversifikasi, pahami dulu apakah kamu termasuk investor konservatif, moderat, atau agresif. Pertimbangkan juga tujuan investasi, jangka waktu, pendapatan, serta dana darurat agar strategi yang dipilih benar-benar sesuai dengan kondisi kamu.
Baca Juga:Mana yang Lebih Menguntungkan: Tabungan Emas atau Tabungan Uang? Kenali 9 PerbedaannyaJangan Cuma Disimpan! Inilah 4 Alasan Investasi Emas Harus Dievaluasi Secara Berkala
4. Malas melakukan riset dasar
Kesalahan lainnya adalah membeli aset hanya karena ikut tren atau rekomendasi dari media sosial. Padahal, setiap investasi memiliki karakteristik, risiko, dan potensi keuntungan yang berbeda.
Sebelum memasukkan aset ke dalam portofolio, setidaknya kamu perlu memahami cara kerjanya, risiko yang mungkin muncul, biaya yang dikenakan, serta faktor yang dapat memengaruhi nilainya. Untuk saham, misalnya, kamu bisa mempelajari kondisi perusahaan dan kinerja keuangannya.
Riset dasar gak harus selalu rumit. Dengan memahami informasi penting sebelum membeli, kamu bisa membuat keputusan berdasarkan pertimbangan yang lebih rasional dan gak mudah terbawa FOMO atau rasa takut ketinggalan tren.
5. Salah mengatur porsi dan modal
Diversifikasi bukan hanya tentang memilih aset yang berbeda, tetapi juga menentukan berapa banyak modal yang dialokasikan ke masing-masing aset. Pemula sering melakukan kesalahan dengan membagi modal secara asal atau menempatkan terlalu banyak dana pada aset yang dianggap paling menarik.
Padahal, pembagian modal sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi. Aset yang lebih berisiko mungkin mendapatkan porsi lebih kecil, sementara aset yang lebih stabil bisa menjadi bagian yang lebih besar dalam portofolio, tergantung strategi masing-masing investor.
Kamu juga sebaiknya gak menggunakan seluruh uang yang dimiliki untuk investasi. Pastikan kebutuhan sehari-hari dan dana darurat sudah aman terlebih dahulu. Dengan pengelolaan modal yang lebih terencana, kamu bisa berinvestasi dengan lebih tenang tanpa mengorbankan kebutuhan finansial utama.
