Di saat kesenian tradisional Cirebon terus berhadapan dengan perubahan zaman, generasi muda justru dituntut menjadi penjaga budaya. Sanggar Seni Ninis membuktikannya lewat ujian Tari Topeng Kelana. Namun, apresiasi dan pujian saja tentu tak cukup, jika pemerintah ingin kesenian tradisional benar-benar bertahan. Maka dukungan dan kebijakan nyata harus dilakukan.
Sebelas siswa Sanggar Seni Ninis, mulai usia tujuh hingga enam belas tahun, diuji membawakan Tari Topeng Kelana di area shelter Taman Parkir Sumber.
Bukan sekadar menilai keluwesan gerak. Ujian ini juga menguji wiraga, wirahma, dan wirasa, termasuk keberanian dan mental anak saat tampil di depan publik.
Baca Juga:DPRD Indramayu Setujui KUA-PPAS APBD 2027 – VideoKakek 65 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa Didalam Rumah – Video
Di tengah gempuran budaya populer, anak-anak ini justru memilih belajar kesenian tradisional. Mereka berlatih, diuji, dan disiapkan menjadi generasi penerus.
Komitmen Sanggar Seni Ninis patut diapresiasi. Namun, pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada sanggar, seniman, dan orang tua.
Pemerintah juga dituntut memberikan kontribusi yang lebih nyata. Bukan hanya hadir saat pertunjukan, memberikan apresiasi, lalu selesai.
Apalagi, Sanggar Seni Ninis kini membina sekitar lima puluh siswa, dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka adalah calon penjaga kesenian Cirebon di masa depan.
Pertanyaannya, setelah anak-anak ini mau belajar dan berjuang mempertahankan budaya Cirebon, sejauh mana pemerintah menyiapkan ruang, fasilitas, pembinaan, dan kesempatan agar mereka bisa terus berkarya?
Sebab, pelestarian budaya tidak cukup dengan seremonial atau sekadar menyebut budaya sebagai aset daerah. Harus ada kebijakan dan dukungan yang konsisten, agar seniman dan generasi muda tidak berjuang sendirian.