Agar anak gak mudah bosan, panitia bisa membuat waktu tunggu sesingkat mungkin. Jumlah peserta dalam satu kelompok juga dapat disesuaikan dengan jenis permainannya. Orang dewasa bisa mengajak anak lain memberikan dukungan kepada peserta yang sedang bermain. Dengan begitu, anak tetap memiliki aktivitas meski belum mendapat giliran. Hindari memarahi anak hanya karena mereka terlihat gak sabar. Berikan contoh secara konsisten bahwa setiap orang akan mendapatkan kesempatan bermain.
3. Membantu mengembangkan kemampuan motorik
Banyak lomba 17-an untuk anak TK melibatkan gerakan tubuh sederhana. Berlari, berjalan membawa benda, melompat, atau memasukkan benda ke dalam wadah dapat melatih kemampuan motorik anak. Gerakan tersebut membantu anak menggunakan koordinasi antara mata, tangan, kaki, dan tubuh. Aktivitas fisik yang menyenangkan juga membuat anak lebih aktif bergerak. Namun, jenis gerakan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan dan usia peserta. Jangan membuat permainan terlalu sulit hanya demi menghasilkan perlombaan yang lebih seru.
Keamanan perlu menjadi perhatian utama ketika membuat lomba untuk anak TK. Pilih area bermain yang cukup luas dan bebas dari benda yang dapat membuat anak tersandung. Hindari permainan yang melibatkan benda berat, tajam, atau berisiko melukai anak. Orang dewasa juga perlu mengawasi kegiatan dari awal hingga selesai. Jika anak terlihat kelelahan, takut, atau gak nyaman, jangan memaksanya untuk melanjutkan. Permainan yang aman akan membuat pengalaman 17-an terasa lebih menyenangkan bagi anak.
Baca Juga:Klasemen Srikandi Merdeka Cup 2026 Terbaru, Cek Jadwal Pertandingan Hari Ini 17 Agustus4 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula Saat Investasi Saham Luar Negeri
4. Melatih keberanian mencoba hal baru
Bagi anak TK, mengikuti lomba di depan banyak orang bisa menjadi pengalaman baru. Mereka mungkin merasa malu atau ragu ketika harus tampil di depan teman dan orang dewasa. Ketika anak berani mencoba, mereka mendapatkan pengalaman bahwa sesuatu yang awalnya terasa menakutkan ternyata bisa dilakukan. Keberanian tersebut gak selalu berarti anak harus memenangkan perlombaan. Berani maju, mencoba permainan, dan menyelesaikan tantangan juga sudah menjadi pencapaian. Pengalaman kecil seperti ini dapat membantu anak merasa lebih percaya diri.
Orang tua dan guru sebaiknya memberikan dukungan tanpa memberikan tekanan berlebihan. Hindari membandingkan anak dengan teman yang lebih cepat atau lebih berani. Kalimat sederhana seperti “gak apa-apa coba dulu” bisa membuat anak merasa lebih aman. Jika anak memilih gak mengikuti satu permainan, keputusan tersebut juga sebaiknya dihargai. Anak dapat diberikan kesempatan untuk mencoba permainan lain yang terasa lebih nyaman. Dengan cara ini, kegiatan 17-an menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri, bukan sumber tekanan.
