RADARCIREBON.TV- Bisnis smartphone raksasa teknologi asal China, Xiaomi, kembali babak belur. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, laba bersih perusahaan tercatat merosot tajam akibat hantaman krisis chipset memori global yang tak kunjung usai.
Sepanjang kuartal II 2026, laba bersih Xiaomi yang disesuaikan anjlok hingga 43% menjadi 6,22 miliar yuan (sekitar Rp 16 triliun).
Angka ini jauh lebih buruk dari prediksi para analis pasar. Di saat bersamaan, total pendapatan Xiaomi juga terkikis 6,1%.
Baca Juga:Persebaya TC di Thailand Jelang Super League 2026/2027, Taktik Bajul Ijo Sengaja Dirahasiakan!Bilal Hasan Debut UFC! The Indo Ninja Tantang Petarung Tak Terkalahkan di Shanghai
Lini Smartphone Tertekan Hebat
Lini bisnis smartphone yang selama ini menjadi tulang punggung Xiaomi mengalami tekanan paling berat. Pendapatannya merosot 7,5% setelah perusahaan terpaksa memangkas pasokan ponsel kelas menengah dan bawah (entry-level).
Biaya produksi membengkak akibat langkanya chip memori konvensional di pasar global. Pasalnya, raksasa manufaktur seperti Samsung dan SK Hynix kini lebih fokus memproduksi chip canggih untuk kebutuhan data center dan kecerdasan buatan (AI).
Imbasnya, harga chip memori biasa melonjak drastis hingga mencapai rekor tertinggi. Kondisi ini makin diperparah oleh lesunya daya beli masyarakat dan persaingan pasar yang kian kencang.
“Kuartal kedua tetap menantang secara keseluruhan dengan harga memori berada di level tertinggi dalam sejarah, persaingan yang ketat dan permintaan yang lesu,” ungkap Presiden Xiaomi, Lu Weibing.
Data dari lembaga riset Counterpoint mengonfirmasi bahwa Xiaomi menjadi merek dengan penurunan angka pengiriman ponsel terbesar di antara lima besar produsen smartphone dunia pada kuartal ini.
Mobil Listrik Jadi Tumpuan Baru
Untuk mengimbangi merosotnya lini ponsel dan produk smart home (IoT), Xiaomi kini mulai menggantungkan asa pada lini bisnis baru mereka: kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).
Suntikan amunisi dari segmen EV ini diprediksi tumbuh sekitar 20%, terdorong oleh meningkatnya pengiriman model SU7. Xiaomi bahkan menyiapkan SUV anyar bertajuk SkyNomad dan bersiap melebarkan sayap penjualan mobil listriknya ke pasar Eropa mulai tahun depan.
Baca Juga:Batuk Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Bukan Flu, Ini Ciri-Ciri Batuk Akibat GERD yang Sering Tak DisadariRodri Pilih Barcelona, Mourinho Bongkar Alasan Real Madrid Gagal Boyong Bintang Man City
Meski begitu, ekspansi ke industri otomotif ini bak pisau bermata dua. Biaya riset yang membengkak serta perang harga di pasar mobil listrik China turut menggerus margin keuntungan perusahaan secara keseluruhan.
