RADARCIREBON.TV- Di era yang serba cepat seperti sekarang, kita terbiasa dengan segalanya yang serba instan—termasuk urusan berkirim pesan. Namun belakangan ini, Generasi Z (Gen Z) justru mempopulerkan tren yang berlawanan.
Mereka mulai meninggalkan aplikasi chatting kilat dan beralih ke aplikasi unik yang sengaja memperlambat pengiriman pesan.
Melansir dari laporan Yahoo Tech, dua aplikasi bernama Carrier Pidge dan Roost sukses menyedot perhatian karena menghadirkan sensasi berkirim pesan jadul: memanfaatkan burung merpati virtual untuk mengantar pesan!
Baca Juga:iPhone 17 Kalahkan Semua Rival, Ini 10 HP Terlaris di Dunia Kuartal II 2026Cara Cek Desil DTSEN Pakai NIK KTP untuk Tahu Status Penerima Bansos, Begini Langkahnya
Terbang Mengarungi Benua, Pesan Bisa ‘Hilang’ di Jalan
Cara kerjanya terbilang sangat unik. Saat Anda menekan tombol kirim, pesan tidak akan langsung masuk ke ponsel penerima seperti di WhatsApp atau iMessage.
Sebagai gantinya, seekor merpati digital akan “terbang” mengantarkan pesan Anda dengan simulasi kecepatan rata-rata 177 kilometer per jam.
Jika penerima berada di lokasi terdekat, pengiriman mungkin cuma butuh beberapa detik. Namun kalau beda negara atau benua, penerima baru bisa membaca pesan tersebut beberapa jam kemudian.
Lucunya lagi, aplikasi ini menyematkan risiko 0,2 persen merpati Anda bakal “hilang” di tengah jalan. Artinya, ada kemungkinan pesan Anda tidak akan pernah sampai sama sekali!
Sang pengembang, Noah Iarrobino, mengaku menggarap aplikasi ini hanya dalam waktu tiga minggu. Di halaman toko aplikasi, ia bahkan dengan jujur menyebut karya buatannya ini sebagai aplikasi yang “tidak berguna” dan “benar-benar tidak praktis”.
Sensasi Menunggu yang Bikin Kangen
Justru di situlah letak daya tariknya. Aplikasi ini berhasil membawa penggunanya merasakan kembali romantisme komunikasi masa lalu.
Saat pesan sedang diantar, pengirim dan penerima bisa memantau peta pergerakan merpati secara real-time. Ada Sensasi kepo dan rasa penasaran menunggu burung hinggap membawa surat—sebuah pengalaman yang sudah punah di aplikasi chat arus utama.
Baca Juga:Sleep Tourism Makin Populer! Liburan Kini Justru Berburu Tempat untuk Tidur NyenyakKopi Aman untuk Jantung? Ini Batas Minum Kopi per Hari Menurut Studi Terbaru
Tren ini terbukti bukan sekadar keisengan musiman. Aplikasi sejenis bernama Roost bahkan langsung diserbu lebih dari 300.000 pengguna hanya dalam kurun beberapa minggu pasca-rilis.
Lepas dari Tekanan Balas Chat Cepat
Fenomena ini menjadi sinyal kuat kejenuhan masyarakat terhadap komunikasi modern. Kecepatan instant messaging selama ini tak jarang memicu stres—ada tuntutan tak tertulis untuk selalu fast response, membalas sekenanya, atau merasa bersalah jika menunda balasan.
