Langit Desa Ancaran Kecamatan Kuningan Kabupaten Kuningan berubah menjadi arena adu skill para pelayang, dalam lomba layangan Anoe Aink Cup I yang digelar 29 hingga 30 Agustus 2026. Puluhan tim dari berbagai wilayah di Kuningan turut bersaing dalam dua kategori, yaitu seot dan sukhoi.
Langit Desa Ancaran Kecamatan Kuningan Kabupaten Kuningan berubah menjadi arena adu skill para pelayang, dalam lomba layangan Anoe Aink Cup I yang digelar 29 hingga 30 Agustus 2026. Kompetisi olahraga rekreasi di bawah naungan Pelangi Kuningan dan KORMI ini, tidak hanya mengandalkan keberanian menerbangkan layangan, tetapi juga menuntut teknik, refleks, konsentrasi, dan strategi.
Dalam pertandingan, player harus mampu membaca arah angin, menjaga kestabilan layangan, mengatur tarikan dan kendur kenur, hingga melakukan manuver untuk mencari celah serangan. Kemampuan membaca gerakan lawan juga menjadi kunci, karena setiap kesalahan bisa membuat layangan nyungsep, sobek, atau bahkan putus.
Baca Juga:Semangat Kemerdekaan, MT Sabar Meriahkan HUT Ke-81 RI – VideoNasib Nunung Yulianti, PMI Cirebon Yang Sakit Di Mesir – Video
Lomba ini membuka dua kategori, yaitu kategori seot dan kategori sukhoi, masing-masing dengan 96 slot peserta. Pertandingan menggunakan sistem gugur dengan durasi empat menit setiap laga. Player dinyatakan kalah jika layangannya putus, menghujam tanah, sobek, maupun ketika kenur tersangkut di pohon selama 10 detik, serta diskualifikasi jika dalam 4 menit kedua layangan masih bertahan diudara.
Selain mengejar gelar juara, panitia menyiapkan hadiah uang pembinaan, tropi atau medali, serta sertifikat. Untuk masing-masing kategori, juara pertama mendapatkan uang pembinaan dua juta rupiah, juara kedua satu juta rupiah, dan juara ketiga tujuh ratus ribu rupiah. Sementara juara harapan satu, dua, dan tiga masing-masing mendapatkan seratus ribu rupiah. Panitia juga menyediakan doorprize bagi peserta yang beruntung.
Kompetisi ini menjadi menarik karena mempertemukan pelayang dari lintas generasi. Peserta termuda adalah Zaki yang baru berusia delapan tahun, namun sudah memiliki pengalaman berlomba di kelas sukhoi dan beberapa kali meraih juara. Sementara peserta tertua, Abah Samsul, berusia lebih dari 60 tahun. Kondisi ini menunjukkan olahraga layangan bisa dinikmati sekaligus dikompetisikan oleh berbagai kelompok usia.