RADARCIREBON.TV- Pasar keuangan global berpotensi menghadapi pekan yang sangat bergejolak. Panasnya tensi geopolitik—mulai dari konflik Rusia-Ukraina, memanasnya militer AS dan Iran, hingga dinamika pemilu sela di Amerika Serikat—diperkirakan bakal memicu guncangan pada indeks dolar, harga minyak, hingga emas.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan indeks dolar pekan depan bergerak di rentang 90,30 hingga 100,20.
Sementara dari pasar energi, harga minyak mentah WTI diprediksi berada di kisaran 91,60–103,50 dolar AS per barel, dan Brent berpotensi menembus di atas 105 dolar AS per barel.
Baca Juga:David Almansa Kuasai Practice Moto3 San Marino, Veda Ega Lolos Langsung ke Q2TikTok Bawa Fitur Baru ke Kolom Komentar, Kini Bisa Voice Note, Polling hingga 9 Foto!
Lonjakan harga minyak ini berimbas langsung pada lonjakan harga bahan bakar di AS yang menembus lebih dari 6 dolar AS per galon. Dampaknya, sentimen konsumen melemah drastis seiring membumbungnya ekspektasi inflasi tahunan ke level 4,6 persen.
Kondisi tersebut memperbesar tekanan bagi nilai tukar rupiah, yang diproyeksikan melemah hingga menyentuh Rp17.850 per dolar AS.
“Kenaikan harga minyak mentah global membuat harga bensin di AS melampaui 6 dolar AS per galon dari sebelumnya 4,8 dolar AS,” ungkap Ibrahim pada Minggu (13/9/2026).
Bayang-Bayang Suku Bunga The Fed dan Emas Dunia
Merespons tekanan inflasi ini, pasar kini tertuju pada Bank Sentral AS (The Fed). Sekitar 85 persen ekonom memprediksi The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan.
Kenaikan suku bunga ini diperkirakan menahan laju kenaikan harga emas. Emas dunia yang terakhir ditutup di level 4.348 dolar AS per troy ons diproyeksikan bergerak di rentang 4.102 hingga 4.650 dolar AS per troy ons pada pekan depan, dengan batas bawah (support) di 4.245–4.102 dolar AS dan batas atas (resistance) di 4.479–4.650 dolar AS.
Untuk pasar domestik, harga emas antam ditutup pada posisi Rp2.611.000 per gram akhir pekan ini. Pelemahan rupiah ikut menahan koreksi harga emas dalam negeri, yang diprediksi akan bergerak di rentang Rp2.450.000 hingga Rp2.750.000 per gram.
Panas di Timur Tengah dan Ketidakpastian AS
Ketegangan geopolitik masih menjadi penggerak utama pasar. Di Eropa, serangan ke pusat infrastruktur energi Ukraina terus berlanjut.
