Menggali Kisah Kemerdekaan di Cirebon: Suara Veteran dan Monumen yang Terlupakan

Taman Makam Pahlawan Kesenden, Cirebon
Foto: arsip pribadi (Radar Cirebon TV)
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Kota Cirebon di Jawa Barat dikenal tidak hanya sebagai kota udang, tetapi juga sebagai salah satu titik penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa proklamasi diucapkan lebih dulu di kota ini, menunjukkan betapa signifikan peran Cirebon dalam kisah kemerdekaan. Namun seiring waktu, cerita-cerita heroik itu mulai terlupakan sejalan dengan berkurangnya jumlah saksi sejarah, yaitu para veteran.

Pada peringatan Hari Kemerdekaan ke-75, puluhan veteran berkumpul di Gedung Juang Cirebon. Dalam seragam cokelat yang mereka banggakan, mereka saling berbagi kisah dari masa lalu. Bagi mereka, pertemuan ini lebih dari sekadar mengenang; ini adalah waktu untuk merenungkan nasib para pejuang.

Baca Juga:Hadiah Kemerdekaan ke‑80, Pemerintah Resmikan Libur Nasional 18 Agustus 2025Nova Arianto Jadikan Piala Kemerdekaan 2025 Modal Persiapan Ideal bagi Timnas U‑17 Menuju Piala Dunia

“Mungkin ini satu-satunya organisasi veteran yang anggotanya terus berkurang. Kenyataannya, mereka semakin sedikit. Alasannya tentu saja karena meninggal,” jelas Didi Supardi (77), Ketua Dewan Pimpinan Cabang Legiun Veteran Republik Indonesia Kota Cirebon.

Didi, yang merupakan veteran pejuang kemerdekaan, mengenang saat-saat ia terlibat dalam operasi Trikora di Irian Barat di tahun 1961 dan operasi Dwikora di perbatasan Malaysia pada tahun 1964. “Saya seharusnya berangkat di kapal terakhir, tetapi batal akibat ada perundingan dengan Belanda. Padahal, saya sudah siap untuk bertempur,” kenangnya.

Saat ini, jumlah veteran di Cirebon mengalami penurunan yang signifikan. Dari sekitar 700 orang di tahun 1965, kini hanya tersisa 75 veteran. Usia mereka berkisar antara 65 hingga 95 tahun. “Jumlah ini tidak akan bertambah lagi kecuali ada perang dengan negara lain, karena veteran didefinisikan sebagai mereka yang berjuang melawan negara asing,” terangnya Didi.

Kondisi serupa juga dialami oleh Soehodo (89), seorang veteran yang terlatih menggunakan senjata saat masih berusia belasan tahun. “Saya adalah tentara pelajar, bergabung bukan atas ajakan orang lain, tapi dari keinginan sendiri,” ujarnya sambil mengenang pertempuran melawan pasukan kolonial di Tegal dan Purwokerto.

Menurut para veteran, kisah-kisah ini perlu diabadikan dengan cara yang lebih dari sekadar patung. Mereka berharap Cirebon memiliki monumen yang dilengkapi dengan diorama dan museum untuk pendidikan generasi muda.

0 Komentar