RADARCIREBON TV – Persib Bandung kini menghadapi ancaman sanksi berat dari AFC (Asian Football Confederation) setelah insiden flare menyala di tribun Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) usai laga terakhir fase grup AFC Champions League Two (ACL 2) 2025/2026 kontra Bangkok United. Kejadian tersebut, meski menjadi momentum euforia Bobotoh, dilaporkan dalam laporan pertandingan dan membuka peluang hukuman yang bisa berdampak besar pada kiprah Maung Bandung di babak gugur kompetisi antarklub Asia ini.
Ancaman Sanksi Berat dari AFC
Manajemen Persib, melalui CEO Deputy PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) Adhitia Putra Herawan, mengungkapkan hasil diskusi awal dengan perwakilan AFC yang hadir di Bandung. Dari pertemuan tersebut muncul dua skenario sanksi yang mungkin dijatuhkan sebagai konsekuensi dari pelanggaran aturan keselamatan dan perilaku suporter. Dua opsi itu adalah penutupan stadion 50 persen atau yang paling ekstrem, yaitu Persib harus bermain tanpa penonton di babak 16 besar.
“Kami memahami bahwa kemarin itu seperti hajatan, jadi kami sangat memahami euforia dan animo Bobotoh,” kata Adhitia kepada wartawan. Namun, ia menambahkan bahwa insiden ini memang menimbulkan beberapa potensi sanksi dan kekhawatiran bagi klub jelang laga-laga penting di fase gugur ACL 2.
Baca Juga:Geger! Eks Real Madrid Dengan 22 Gelar Diincar Man United di Bursa Transfer, Siapakah Sosok Legendaris Itu?Persib Bandung Ukir Sejarah! Lolos ke 16 Besar ACL Two 2025/2026 Usai Finish Juara Grup dan Kumpulkan 13 Poin
Menurut manajemen, atmosfer dukungan suporter di GBLA sejauh ini memberikan dampak positif bagi performa tim. Pelatih Bojan Hodak bahkan menyebut dukungan Bobotoh sebagai salah satu elemen yang membuat para pemain tampil penuh semangat di sejumlah pertandingan terakhir di kandang.
Dampak Potensial dan Kekhawatiran Manajemen
Ancaman sanksi tanpa penonton tidak hanya bermakna secara teknis. Dari perspektif klub, ini juga akan berdampak signifikan terhadap aspek finansial dan moral tim. Manajemen mencatat tren peningkatan jumlah penonton yang drastis sepanjang tiga laga kandang terakhir, dari sekitar 19 ribu menjadi lebih dari 28 ribu pengunjung saat melawan Bangkok United. Angka ini diproyeksikan bisa mencapai 32–35 ribu pada babak 16 besar jika kapasitas penuh diizinkan.
Jika kapasitas penonton dipotong setengah atau bahkan tidak diizinkan sama sekali, kerugian yang dirasakan bukan hanya sekadar pemasukan dari tiket, tetapi terutama semangat dan dukungan moral yang hilang ketika pemain bermain tanpa suara Bobotoh di tribun. “Kalau tanpa penonton, lebih berat lagi. Kerugiannya bukan hanya finansial, tapi moral,” ujar Adhitia.
