RADARCIREBON.TV – Nama Waduk Salmokji tengah menjadi sorotan sejak diangkat ke layar lebar melalui film Salmokji: Whispering Water. Tidak hanya menarik perhatian penonton di Korea Selatan, film ini juga mulai dikenal luas di kalangan pencinta horor internasional, termasuk di Indonesia. Sejak dirilis pada 8 April 2026, film tersebut mencatat pencapaian box office yang signifikan dan bahkan melampaui sejumlah film besar lainnya.
Antusiasme penonton terhadap film ini tidak lepas dari latar cerita yang diangkat dari lokasi nyata. Waduk Salmokji diketahui berada di wilayah Yesan-gun, Provinsi Chungcheong Selatan. Dibangun pada tahun 1982 sebagai sarana irigasi, waduk ini justru lebih dikenal karena berbagai kisah misterius yang berkembang di masyarakat setempat.
Dalam cerita rakyat lokal, waduk ini kerap dikaitkan dengan berbagai kejadian ganjil. Beberapa warga menyebutnya sebagai tempat yang memiliki keterkaitan antara dunia manusia dan dunia arwah. Reputasi tersebut semakin kuat dengan adanya laporan tentang orang hilang secara misterius di sekitar area waduk, khususnya para pemancing yang disebut tidak pernah kembali.
Baca Juga:Babak Pertama Sengit: Bayern Munich vs Real Madrid Berakhir 2-3 di Allianz ArenaRekomendasi Film Horror Korea Terbaik : Penuh Dengan Plotwist & Bikin Deg-degan
Selain itu, terdapat pula aturan tidak tertulis yang dipercaya masyarakat sekitar, yakni menghindari kawasan waduk setelah pukul 22.00 malam. Pada waktu tersebut, area ini dianggap lebih rawan dan kerap dikaitkan dengan penampakan sosok asing hingga suara-suara yang tidak dapat dijelaskan. Cerita-cerita ini kemudian menjadi inspirasi kuat dalam pengembangan alur film.
Dalam filmnya, tokoh Soo In yang diperankan oleh Kim Hye-yoon digambarkan memimpin tim produksi untuk melakukan pengambilan ulang rekaman di lokasi tersebut. Namun, misi tersebut berubah menjadi situasi mencekam ketika anggota tim mulai mengalami kejadian aneh dan hilang satu per satu. Bersama Ki Tae yang diperankan Lee Jong-won, cerita berkembang menjadi konflik antara realitas dan fenomena supranatural.
Kehadiran latar tempat yang memiliki kisah nyata memberikan dimensi berbeda bagi film ini. Tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga memperkenalkan unsur budaya dan legenda lokal yang masih dipercaya hingga kini.
Dengan rencana penayangan di Indonesia melalui jaringan bioskop seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis, film ini diperkirakan akan menarik minat penonton yang menyukai genre horor dengan pendekatan realistis dan atmosfer kuat.
