Dolar Tembus Rp 17.600, Impor BBM dan LPG RI Terancam Membengkak, Ini Datanya!

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah ke level Rp 17.630 pada perdagangan Senin (18/5/2026) Foto: pinterest
0 Komentar

Untuk sektor solar, tiga negara utama sumber impor hingga April 2026 adalah Singapura dengan volume 58,56 persen. Malaysia dengan volume 36,56 persen dan Taiwan dengan volume 4,88 persen.

Impor LPG Masih Mendominasi

Hingga April 2026, impor LPG terbesar untuk Indonesia didatangkan dari Amerika Serikat (AS) dengan volume 68,91 persen. Lalu dari Uni Emirat Arab dengan volume 11,83 persen dan Arab Saudi dengan volume 7,36 persen.

Sisanya, Indonesia mengimpor LPG dari Qatar, Australia, Kuwait, dan China.

Dari grafik yang kami sampaikan terlihat bahwa produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan sehingga impor LPG tetap mendominasi pasokan nasional, jelas Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam RDP bersama Komisi XII DPR, Kamis (9/4/2026).

Baca Juga:Rupiah Anjlok ke Rp 17.675 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah dan Selat Hormuz Jadi Biang KerokRupiah Kian Melemah, Harga Laptop dan HP di Indonesia Terancam Naik

Untuk menekan porsi impor, pemerintah melakukan berbagai upaya. Salah satunya pergeseran bahan baku nafta pada kilang domestik seperti RDMP Balikpapan untuk memperkaya produk LPG.

Dengan seluruh langkah strategis mitigasi yang telah kami lakukan, dapat kami tegaskan bahwa pasokan BBM dan LPG nasional saat ini dalam kondisi aman, tandasnya.

Ancaman Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah menjadi tantangan serius bagi upaya menjaga stabilitas harga energi. Biaya impor yang membengkak bisa berdampak pada harga jual BBM dan LPG di dalam negeri.

Jika tidak dikelola dengan baik, inflasi bisa terjadi. Daya beli masyarakat pun terancam menurun.

Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah-langkah strategis. Mulai dari diversifikasi sumber energi hingga optimalisasi kilang dalam negeri.

Sementara itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang. Pasokan BBM dan LPG nasional dipastikan aman.

Namun, efisiensi penggunaan energi tetap perlu dilakukan mengingat tekanan ekonomi global yang masih tinggi.

0 Komentar