5. Keputusan Mempertahankan Gabriel Jesus di Januari 2026
Ketika tawaran 50 juta euro datang dari klub Arab Saudi, banyak yang mendesak Arsenal menjual Gabriel Jesus. Arteta nekat menolak. Keputusan ini berbuah manis ketika Jesus mencetak 4 gol dalam 5 laga terakhir, termasuk brace ke gawang Manchester United yang menjaga asa juara tetap hidup.
6. Comeback 3-2 di Etihad (15 Februari 2026)
Ini adalah titik balik utama. Tertinggal 0-2 hingga menit ke-70, Arsenal bangkit lewat gol bunuh diri Ruben Dias, penalti Bukayo Saka, dan header Kai Havertz di menit 90+3. Kemenangan ini memangkas jarak menjadi 1 poin dan menghancurkan mental City. Dalam pertandingan yang sama, Rodri mengalami cedera yang membuatnya absen 6 pekan, menjadi berkah tak terduga bagi Arsenal.
7. Investasi Pemain Muda: Nwaneri, Lewis-Skelly, dan Heaven
Tak hanya bintang mahal, Arteta juga berani memainkan pemain akademi. Ethan Nwaneri (18 tahun) mencatatkan 8 gol dan 6 assist dari bangku cadangan, termasuk gol kemenangan ke gawang Chelsea di menit 90+4. Myles Lewis-Skelly dan Ayden Heaven juga menjadi rotasi penting ketika cedera melanda lini belakang. Keberanian Arteta ini membuktikan bahwa fondasi juara dibangun dari kombinasi belanja pintar dan pembinaan muda.
Baca Juga:Rp22 Triliun Demi Mimpi Premier League, Habis Manis Sepah Disingkirkan? Jatah Juara Arsenal Tak Main-Main11 Momen Sakral yang Mengantar Arsenal Juara Premier League, Dari Keputusan Kontroversial Hingga Kutukan Palac
8. Mentalitas Tak Menyerah: 7 Poin dari Situasi Tertinggal
Arsenal menjadi tim dengan perolehan poin terbanyak dari situasi tertinggal musim ini, yaitu 7 poin. Dari laga melawan Bournemouth (0-1 jadi 2-1), Leicester (1-2 jadi 3-2), hingga comeback dramatis melawan Manchester United di Emirates (0-1 jadi 2-1), skuad Arteta menunjukkan mental juara yang selama ini dikritik hilang. Inilah hasil dari investasi karakter pemain seperti Rice, Odegaard, dan Raya yang tidak mudah panik.
Kini, setelah delapan momentum ini terukir, Arsenal resmi mengangkat trofi Premier League 2025/2026. Fondasi belanja pemain yang cerdas, ditambah keberanian memainkan pemain muda dan mentalitas baja, menjadi resep sempurna bagi Mikel Arteta untuk mengakhiri puasa gelar selama 22 tahun.
