Selama masa pelatihan, peserta akan diasramakan dan mendapatkan pembelajaran bahasa Jepang, budaya kerja, hingga pembentukan karakter dan kedisiplinan.
Menariknya, seluruh biaya pelaksanaan program ditanggung oleh APBD melalui anggaran Disnaker Kabupaten Cirebon. Artinya, peserta tidak dipungut biaya apa pun selama proses seleksi dan pelatihan berlangsung.
Puluhan Warga Cirebon Sudah Bekerja di Jepang
Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, mengungkapkan bahwa program serupa sebelumnya mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Baca Juga:DPRD Kabupaten Cirebon Bahas Peternakan Sapi Aset Pemkab – VideoPemkab Cirebon Targetkan Perbaikan Jalan Tuntas 2028 – Video
Pada pelaksanaan tahun 2025, jumlah pendaftar bahkan mencapai lebih dari 300 orang, padahal kuota yang tersedia hanya sekitar 130 peserta.
Sebanyak 48 Pekerja Sudah Ditempatkan di Jepang
Dari proses seleksi ketat tersebut, sebanyak 69 peserta berhasil mengikuti pelatihan lanjutan. Namun, sebagian peserta mengundurkan diri karena alasan kesehatan dan kendala pribadi.
Meski demikian, program ini dinilai cukup sukses karena hingga saat ini sudah ada 48 pekerja migran asal Kabupaten Cirebon yang resmi bekerja di berbagai sektor industri di Jepang.
Sementara peserta lainnya masih menunggu proses wawancara akhir sebelum pemberangkatan.
Potensi Remitansi Capai Rp29,3 Miliar
Program kerja ke Jepang ini juga dinilai memiliki dampak ekonomi besar bagi daerah.
Dengan rata-rata penghasilan minimal Rp17 juta per bulan dan kontrak kerja minimal tiga tahun, potensi remitansi dari pekerja migran asal Kabupaten Cirebon diperkirakan mencapai Rp29,3 miliar.
Dana tersebut diprediksi akan membantu meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat, terutama di tingkat desa dan keluarga peserta program.
Selain membuka peluang kerja, program From Zero to Hero juga diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia yang lebih kompetitif dan siap bersaing di pasar kerja internasional.
