Rupiah Stagnan di Rp17.826 per Dolar AS, Dukungan BI dan MSCI Belum Mampu Redam Penguatan Greenback

Nilai rupiah 20 Juni 2026
Nilai rupiah 20 Juni 2026 foto : google finance
0 Komentar

Selain menaikkan suku bunga, BI juga memperketat aturan pembelian valuta asing terhadap rupiah. Batas pembelian tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying dipangkas menjadi US$10.000 per pelaku per bulan. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

Namun demikian, langkah-langkah tersebut dinilai belum cukup untuk membalikkan tekanan dari faktor eksternal. Seperti diungkapkan Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong, pelemahan rupiah pada akhir pekan lebih dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang masih berlanjut. Sentimen positif dari dalam negeri, seperti keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market, juga belum mampu mengimbangi kuatnya dolar AS.

Dampak ke Sektor Riil: Biaya Produksi Naik, Daya Beli Terancam

Penguatan dolar AS terhadap rupiah memberikan dampak yang signifikan terhadap sektor riil, terutama industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi meningkat karena banyak komponen dan bahan baku masih didatangkan dari luar negeri.

Baca Juga:Harga Emas Antam Turun Rp5.000, 1 Gram Kini Rp2.668.000 di Logam MuliaRupiah Hari Ini Anjlok Lagi ke Rp17.846, Dekati Rp18.000, Seberapa Dalam Pelemahannya?

Akibatnya, pelaku usaha menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau menanggung penurunan keuntungan. Pengamat Ekonomi Universitas Patria Artha, Suhendra, menyebutkan bahwa kenaikan biaya produksi minimal mencapai sekitar 10 persen. Dalam jangka pendek, sebagian besar pelaku UMKM masih bertahan dengan cara menekan margin keuntungan, dari yang sebelumnya mencapai 30 persen menjadi sekitar 10 persen.

Jika pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan, baik UMKM maupun industri besar yang bergantung pada impor bahan baku seperti bahan kimia, besi, dan elektronik akan mengalami tekanan yang serius. Pelemahan rupiah juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor, mulai dari elektronik, obat-obatan, hingga bahan baku industri yang akhirnya berdampak pada pengeluaran masyarakat.

Warga Cirebon Mulai Merasakan Dampaknya

Di wilayah Cirebon dan sekitarnya, dampak pelemahan rupiah sudah mulai terasa. Pada awal Juni 2026, ketika dolar AS sempat menembus level psikologis Rp18.000, terjadi lonjakan transaksi penukaran valuta asing di sejumlah money changer di Kota Cirebon. Masyarakat berbondong-bondong menukarkan rupiah mereka ke dolar sebagai bentuk perlindungan terhadap nilai uang mereka.

0 Komentar