Warga yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah atau TPAS Gunung Santri di Desa Kepuh, Kecamatan Palimanan, mengaku merasakan perubahan lingkungan setelah aktivitas pembuangan sampah berhenti. Mereka menilai kondisi kawasan menjadi lebih nyaman karena tidak lagi terganggu bau menyengat dan debu yang selama ini menjadi keluhan.
Salah satu warga sekitar TPAS Gunung Santri, Iin Kusrini, menyebut selama tempat pembuangan sampah masih beroperasi, masyarakat harus menghadapi berbagai dampak lingkungan. Mulai dari bau menyengat, debu akibat lalu lintas kendaraan pengangkut sampah, hingga sampah yang kerap berjatuhan di sepanjang jalan.
Menurutnya, kondisi tersebut berubah sejak aktivitas pembuangan sampah dihentikan. Lingkungan menjadi lebih nyaman dan polusi bau tidak lagi dirasakan oleh warga setempat.
Baca Juga:Swadaya Bersihkan Sampah TPS Liar Di Jalan By Pass Kedawung – VideoCirebon Power Layak Jadi Role Model PLTU Nasional – Video
Selain dampak lingkungan, Iin juga menyoroti kondisi jalan yang selama ini dilalui kendaraan pengangkut sampah. Tingginya intensitas angkutan sampah dinilai turut menyebabkan kerusakan di sejumlah ruas jalan yang digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari.
Iin juga menilai kompensasi yang diterima masyarakat terdampak belum sebanding dengan dampak yang dirasakan. Selama ini warga hanya menerima bantuan tunai sekitar tiga ratus ribu rupiah dalam satu tahun.
Selain itu, program BPJS gratis yang pernah dijanjikan kepada masyarakat terdampak disebut belum berjalan optimal. Sebagian warga mengaku kepesertaan BPJS mereka sudah tidak aktif dalam beberapa bulan terakhir.
Warga berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan apabila operasional TPAS Gunung Santri akan dilanjutkan di masa mendatang. Apabila tetap beroperasi, warga meminta adanya perbaikan jalan dan peningkatan kompensasi bagi masyarakat terdampak.