RADARCIREBON.TV – Prosesi injak kepala kerbau yang dilakukan dalam upacara adat dan sempat menjadi perhatian publik ternyata memiliki makna mendalam dalam budaya masyarakat Lampung. Tradisi yang dikenal dengan istilah Mesol Kibau ini telah diwariskan selama ratusan tahun dan menjadi bagian penting dari prosesi adat Begawi Cakak Pepadun.
Budayawan Lampung sekaligus Dewan Pakar Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL), Admi Syarif, menjelaskan bahwa ritual tersebut bukan sekadar simbol seremonial. Prosesi itu memiliki filosofi yang berkaitan dengan penghormatan, kepemimpinan, serta pembersihan diri dari sifat-sifat buruk.
Prosesi Injak Kepala Kerbau dalam Tradisi Begawi Cakak Pepadun
Menurut Admi Syarif, prosesi menginjak kepala kerbau dilakukan dalam upacara Begawi Cakak Pepadun, yakni prosesi sakral ketika seseorang memperoleh kedudukan adat tertinggi atau diangkat sebagai penyimbang atau pemimpin adat.
Baca Juga:PSI Bela Jokowi Soal Ritual Adat Lampung, Sebut PDIP Menghina BudayaJokowi Tiba di Lampung, Jalani Safari Politik Selama Tiga Hari ke Lima Daerah
Tradisi ini telah dikenal masyarakat Lampung sejak ratusan tahun lalu dan masih dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya.
Mesol Kibau Menjadi Bagian dari Prosesi Adat
Dalam rangkaian Begawi Cakak Pepadun terdapat prosesi Mesol Kibau, yaitu penyembelihan kerbau yang menjadi salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan upacara adat.
Admi menjelaskan bahwa ritual menginjak kepala kerbau biasanya dilakukan pada bagian akhir prosesi sebagai penanda bahwa seluruh tahapan adat telah dilaksanakan.
Meski demikian, ia menyebut setiap kebuwayan atau kelompok adat di Lampung memiliki tradisi yang bisa berbeda satu sama lain.
Makna Filosofis Prosesi Injak Kepala Kerbau
Admi menuturkan bahwa prosesi tersebut memiliki makna simbolis sebagai upaya membersihkan diri dari berbagai sifat negatif.
Simbol Menghilangkan Sifat Buruk
Dalam tradisi Lampung, ritual ini melambangkan pembersihan dari sifat-sifat seperti:
- Kesombongan
- Iri dengki
- Ketamakan
Selain itu, prosesi tersebut juga menjadi bentuk penghormatan kepada seseorang yang memperoleh gelar atau kedudukan adat.
Baca Juga:Masih Ragu? Kenali 10 Tanda Pasangan Siap Menjalin Hubungan SeriusMatahari Buatan China Torehkan Rekor Dunia, Langkah Besar Menuju Energi Fusi Masa Depan
Mengapa Menggunakan Kepala Kerbau?
Menurut Admi Syarif, kerbau memiliki posisi istimewa dalam kehidupan adat masyarakat Lampung.
Hewan tersebut kerap dijadikan ukuran dalam berbagai perhitungan adat maupun penyelenggaraan pesta adat berskala besar.
Ia juga berpandangan bahwa pemilihan kerbau bukan tanpa alasan. Kerbau dipandang sebagai hewan yang kuat dan berukuran besar sehingga dianggap mampu merepresentasikan kekuatan serta kebesaran masyarakat Lampung.
