Peserta lain, Ardiansyah Rachman, yang merupakan Guru Seni dan Prakarya SMP Negeri 2 Greged, menilai materi seminar memiliki korelasi langsung dengan kurikulum pembelajaran di sekolah. Hasil kajian ini dapat menjadi referensi valid untuk mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal kepada para siswa.
Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, menegaskan bahwa hasil kajian yang dilakukan selama empat hari ini tidak akan berdampak signifikan apabila rekomendasinya hanya berhenti di meja Disbudpar. Oleh karena itu, pihaknya mendorong kolaborasi erat dengan Dinas Pendidikan agar materi kebudayaan ini dapat diteruskan oleh guru kepada para siswa.
Selanjutnya, Disbudpar juga berharap Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta perangkat daerah yang membidangi UMKM dapat membantu memperluas pangsa pasar Gerabah Sitiwinangun. Menurut Fajar, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan nilai ekonomi agar para perajin mampu terus bertahan dan produktif.
Baca Juga:Reses, Prof Rokhmin Dahuri Serap Aspirasi Warga Kota Cirebon – VideoAntrean Kendaraan Di SPBU Mengular – Video
Fajar menyebut, Gerabah Sitiwinangun memiliki potensi besar menjadi produk unggulan daerah apabila didukung secara integratif oleh sektor pendidikan, promosi, pemasaran, dan partisipasi aktif masyarakat. Melalui Seminar Hasil Kajian ini, Pemerintah Kabupaten Cirebon berharap terbangun sinergi lintas sektor agar Gerabah Sitiwinangun tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, melainkan menjadi sumber edukasi, penguat identitas daerah, sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif masyarakat.