Disbudpar Dorong Kolaborasi Lintas OPD Lestarikan Gerabah Sitiwinangun – Video

Disbudpar Dorong Kolaborasi Lintas OPD Lestarikan Gerabah Sitiwinangun
0 Komentar

Pelestarian Gerabah Sitiwinangun tidak dapat dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saja. Melalui Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum Pangeran Cakrabuana, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon mendorong keterlibatan lintas organisasi perangkat daerah (OPD), dunia pendidikan, hingga masyarakat luas agar warisan budaya ini tidak hanya lestari, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi para perajin.

Seminar Hasil Kajian Gerabah Sitiwinangun menjadi penutup rangkaian sosialisasi koleksi Museum Pangeran Cakrabuana yang diselenggarakan oleh Disbudpar Kabupaten Cirebon. Selain mengangkat nilai sejarah dan budaya, seminar ini menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk menjaga keberlangsungan gerabah sebagai salah satu identitas daerah.

Pemateri pertama, Made Casta, menjelaskan bahwa Gerabah Sitiwinangun bukan sekadar produk kerajinan tangan biasa, melainkan memiliki makna simbolis yang berkaitan erat dengan siklus kehidupan manusia. Elemen tanah, air, udara, dan api menjadi bagian dari filosofi mendalam yang mengajarkan kesejatian manusia, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan alam semesta.

Baca Juga:Reses, Prof Rokhmin Dahuri Serap Aspirasi Warga Kota Cirebon – VideoAntrean Kendaraan Di SPBU Mengular – Video

Menurutnya, gerabah juga memiliki nilai ekologis yang tinggi. Di tengah meningkatnya penggunaan plastik, masyarakat perlu kembali menumbuhkan kesadaran untuk beralih menggunakan produk gerabah yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung eksistensi perajin lokal.

Pemateri lainnya, Waryo Sela, menambahkan bahwa keindahan estetik gerabah tidak dapat dipisahkan dari nilai kegunaannya. Gerabah Sitiwinangun memiliki identitas khas Cirebon yang terlihat jelas dari bentuk, motif, hingga fungsionalitasnya dalam berbagai tradisi adat masyarakat. Waryo menilai potensi seni kriya Cirebon sangat memungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya berlangsung di ruang sanggar, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan formal generasi muda.

Sementara itu, pemateri Oji Sabbit menjelaskan bahwa gerabah tidak dapat dilesarikan apabila hanya mengandalkan perajin atau pemerintah semata. Gerakan kolektif dan kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk lokal menjadi bentuk pelestarian paling sederhana, namun memiliki dampak ekonomi yang besar bagi keberlangsungan dapur para perajin.

Seminar ini juga mendapat respons positif dari para peserta. Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Davina Manda Azzaria, mengaku baru mengetahui bahwa gerabah memiliki nilai filosofis yang mendalam dan bukan hanya sebagai benda pakai. Davina berharap generasi muda dapat lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan kebudayaan agar warisan lokal tetap terjaga.

0 Komentar