Wacana Tatar Sunda Berpotensi Timbulkan Polarisasi, KDM Diminta Jangan Buat Kebijakan Simbolik Saja

Ilustrasi peta Jawa Barat dengan latar belakang motif batik Sunda dan tulisan Tatar Sunda, melambangkan usulan
Ilustrasi Peta Jawa Barat yang disematkan dengan ornamen khas Sunda dan tulisan \"Tatar Sunda\" sebagai representasi dari usulan pergantian nama provinsi yang kini tengah memasuki tahap legislasi di DPRD Jawa Barat, dengan seluruh fraksi menyatakan persetujuannya untuk melanjutkan proses ke tahap berikutnya.
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda mendapat sorotan dari Pengamat Kebijakan Publik Cirebon, Rizky Pratama. Menurutnya, sebagai kepala daerah, Gubernur Jawa Barat perlu lebih mengedepankan kebijakan yang aspiratif dan menjawab kebutuhan masyarakat saat ini dibandingkan menghadirkan kebijakan yang bersifat simbolik.

Rizky menilai Jawa Barat saat ini telah berkembang menjadi wilayah yang sangat majemuk. Selain masyarakat Sunda, provinsi ini dihuni oleh berbagai etnis dan latar belakang budaya, termasuk masyarakat Cirebon, Jawa, Betawi, Tionghoa, dan kelompok masyarakat lainnya yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial Jawa Barat.

“Jawa Barat sudah menjadi rumah bersama. Karena itu, pemimpin harus melihat realitas hari ini, bukan hanya romantisme masa lalu. Sejarah penting untuk menjaga identitas, tetapi masa depan membutuhkan kebijakan yang mampu merangkul seluruh masyarakat,” ujar Rizky.

Baca Juga:Kebangkitan Identitas Jawa Barat: Langkah Berani Mengganti Nama Provinsi Menjadi Tatar SundaMuncul Usulan Perubahan Nama Provinsi Tatar Sunda

Menurutnya, nilai-nilai Sunda tidak harus diperkuat melalui perubahan nama provinsi. Ajaran Sunda justru akan lebih bermakna apabila diwujudkan dalam kebijakan yang mengedepankan welas asih, kepedulian, keadilan, dan penghormatan terhadap keberagaman masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa perubahan nama Jawa Barat menjadi Tatar Sunda berpotensi memunculkan penolakan dari sejumlah daerah yang memiliki identitas sejarah dan budaya berbeda.

“Ini bukan hanya soal Cirebon. Ada banyak kelompok masyarakat yang memiliki identitasnya sendiri. Jangan sampai kebijakan ini justru memunculkan kesan bahwa ada identitas yang lebih diutamakan dibanding yang lain, Jawa Barat ini sudah jadi miniaturnya Indonesia,” katanya.

Rizky juga menilai Dedi Mulyadi sebagai pemegang kewenangan pemerintahan harus mampu membaca arah perubahan zaman.

“Seorang gubernur bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan. Masa lalu adalah fondasi identitas, sedangkan masa depan adalah tantangan yang harus dijawab melalui kebijakan yang inklusif, aspiratif, dan berpihak kepada seluruh masyarakat Jawa Barat,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika pemerintah tetap mendorong perubahan nama tanpa membangun kesepahaman seluruh elemen masyarakat, bukan tidak mungkin akan memunculkan tuntutan baru dari daerah-daerah yang selama ini memiliki aspirasi tersendiri, seperti wacana pembentukan Provinsi Cirebon Raya atau Cirebon Nagari.

0 Komentar