Jejak Sunan Gunung Jati di Cirebon: Menelusuri Warisan Sang Penyebar Islam di Tanah Sunda

Makam Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Jati Cirebon dengan suasana sakral
Jejak Sunan Gunung Jati di Cirebon meliputi Masjid Sang Cipta Rasa 1480, Masjid Merah Panjunan, dan makam di Astana Gunung Jati dengan tradisi Siraman Panjang yang masih lestari
0 Komentar

Peninggalan Bersejarah Sunan Gunung Jati di Cirebon

Jejak Sunan Gunung Jati di Cirebon tidak hanya berupa catatan sejarah, tetapi juga berbagai peninggalan fisik dan tradisi yang masih terjaga hingga kini. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Didirikan pada tahun 1480 M, Masjid Agung Sang Cipta Rasa menjadi pusat dakwah Islam di Cirebon. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati dibantu oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dengan Raden Sepat, mantan arsitek Majapahit, sebagai arsiteknya . Masjid ini terletak di samping kiri keraton Cirebon dan di sebelah barat alun-alun, menjadi salah satu masjid tertua di Jawa yang masih berdiri kokoh.

2. Masjid Merah Panjunan

Masjid yang dibangun pada tahun 1480 ini merupakan peninggalan penting lainnya. Terletak di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, masjid ini memiliki arsitektur perpaduan Jawa dan Cina. Keunikannya terlihat dari dinding-dinding yang dihiasi piring-piring porselen dari Tiongkok dan Eropa. Awalnya bernama Musala Al-Athya, masjid ini kemudian dikenal sebagai Masjid Merah karena temboknya yang terbuat dari bata merah .

Baca Juga:Fakta Keraton Kanoman yang Bersejarah: Keistimewaan dan Peninggalan Kesultanan CirebonJajanan Tradisional Favorit Cirebon: Warisan Rasa yang Tak Lekang oleh Waktu

3. Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Jati

Setelah wafat pada tahun 1568 dalam usia sekitar 120 tahun, Sunan Gunung Jati dimakamkan di Kompleks Makam Astana Gunung Jati yang terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon . Kompleks ini memiliki keunikan tersendiri:

  • Memiliki sembilan pintu (lawang sanga) yang harus dilalui peziarah .
  • Makam Sunan Gunung Jati berada di tingkatan teratas dan hanya bisa dimasuki oleh kerabat keraton .
  • Di dalam kompleks ini juga dimakamkan tokoh-tokoh penting seperti Ratu Rarasantang (ibu Sunan), Pangeran Cakrabuana (paman), Putri Ong Tien (istri), dan Fatahillah .

4. Tradisi Siraman Panjang

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan di Keraton Kasepuhan adalah Siraman Panjang, prosesi tahunan menyambut peringatan Maulid Nabi. Dalam tradisi ini, piring-piring peninggalan Sunan Gunung Jati dikeluarkan dan dibersihkan. Masyarakat setempat bahkan rela berdesak-desakan untuk mendapatkan air bekas cucian piring pusaka tersebut yang dianggap membawa berkah .

Warisan yang Menginspirasi

Jejak Sunan Gunung Jati di Cirebon bukan hanya sekadar peninggalan sejarah, melainkan cerminan bagaimana akulturasi budaya dan toleransi dapat menciptakan peradaban yang kuat. Pendekatan dakwahnya yang inklusif menjadi teladan bahwa penyebaran ajaran agama dapat berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap kearifan lokal. Hingga kini, warisan Sunan Gunung Jati masih hidup dalam tradisi, arsitektur, dan kehidupan masyarakat Cirebon—sebuah bukti bahwa pengaruh seorang tokoh besar dapat bertahan melintasi abad.

0 Komentar