RADARCIREBON.TV – Di Kota Cirebon, terdapat sebuah warisan budaya yang menyimpan sejarah panjang dan nilai spiritual yang mendalam. Keraton Kanoman adalah salah satu dari dua kesultanan utama di Cirebon yang berdiri sebagai tongkat estafet peradaban setelah masa Sunan Gunung Jati . Keraton ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol keteguhan adat dan penyebaran Islam di Jawa Barat. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa di balik kemegahan arsitekturnya, ada deretan fakta Keraton Kanoman yang bersejarah dan menarik untuk diungkap.
Keraton Kanoman terletak di Jalan Kanoman, tepat di belakang Pasar Kanoman yang ramai, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon . Luas kompleksnya mencapai sekitar 6 hektare . Letaknya yang bersebelahan dengan pasar bukan tanpa alasan. Keberadaan pasar ini memang sengaja dibangun sejak zaman Belanda untuk menutupi eksistensi keraton, seiring dengan berkurangnya kekuasaan politik kerajaan setelah Indonesia merdeka . Meski demikian, Keraton Kanoman tetap menjadi pusat adat dan spiritual yang dijaga ketat oleh pihak keraton.
Sejarah Berdirinya Keraton Kanoman: Awal Mula Pembagian Kerajaan
Fakta penting tentang Keraton Kanoman adalah bahwa keraton ini lahir dari peristiwa politik besar di Kesultanan Cirebon pada abad ke-17. Kisahnya bermula pada tahun 1666 ketika Panembahan Ratu II atau Pangeran Rasmi, yang kala itu berkuasa, diasingkan ke Surakarta oleh Sultan Amangkurat I dari Mataram karena dituduh bersekongkol dengan Banten . Panembahan Ratu II wafat dalam pengasingan pada 1667, dan Mataram mengambil alih kekuasaan Cirebon .
Baca Juga:Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon: Menyusuri Jejak Kejayaan Kesultanan NusantaraMenbud RI Resmikan Ruang Pameran Tetap Museum Keraton Kanoman – Video
Pengambilalihan ini memicu kemarahan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, yang masih bersaudara dengan Cirebon. Ia kemudian membebaskan dua putra Panembahan Ratu II, yaitu Pangeran Martawijaya dan Pangeran Muhamad Badrudin Kertawijaya, yang juga diasingkan . Untuk mengakhiri konflik internal tentang siapa yang berhak menjadi penerus, Sultan Ageng Tirtayasa membagi Kesultanan Cirebon menjadi tiga bagian pada 1677 :
| Nama Kesultanan | Pemimpin | Gelar |
|---|---|---|
| Kesultanan Kanoman | Pangeran Muhamad Badrudin Kertawijaya | Sultan Anom I |
| Kesultanan Kasepuhan | Pangeran Martawijaya | Sultan Sepuh I |
| Panembahan Cirebon | Pangeran Wangsakerta | Panembahan |
Pangeran Badrudin kemudian membangun istananya di lokasi yang dulunya milik Pangeran Cakrabuwana dan pada tahun 1678 resmi menjadi sultan pertama Keraton Kanoman dengan gelar Sultan Anom I Muhammad Badruddin .
