Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon: Menyusuri Jejak Kejayaan Kesultanan Nusantara

Keraton Kasepuhan Cirebon dengan gapura bentar
Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon berdiri sejak 1529, memiliki arsitektur perpaduan tiga budaya, dan menyimpan koleksi Kereta Singa Barong peninggalan Sunan Gunung Jati
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Di sudut timur Jawa Barat, tepatnya di Kota Cirebon, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan ribuan cerita tentang kejayaan masa lalu. Keraton Kasepuhan bukan sekadar istana tua, melainkan saksi bisu perjalanan panjang peradaban Islam di tanah Jawa. Setiap sudut bangunannya, setiap artefak yang tersimpan, dan setiap ornamen yang menghiasi dindingnya memiliki sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon yang sarat makna dan filosofi mendalam.

Keraton yang terletak di Jalan Kasepuhan Nomor 43, Kelurahan Kesepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 1999. Sebagai keraton tertua di Cirebon, bangunan ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan pada zamannya, tetapi juga menjadi pusat penyebaran Islam yang berperan penting dalam sejarah Nusantara. Mari kita telusuri bersama sejarah Keraton Kasepuhan yang penuh dengan akulturasi budaya dan peristiwa penting.

Dua Kompleks Bangunan dalam Satu Sejarah

Keraton Kasepuhan sebenarnya terdiri dari dua kompleks bangunan bersejarah yang saling berkaitan . Pertama adalah Dalem Agung Pakungwati, yang didirikan pada tahun 1430 M oleh Pangeran Cakrabuana, putra Raja Pajajaran . Bangunan ini merupakan keraton pertama di Cirebon dan menjadi cikal bakal pemerintahan di kota tersebut .

Baca Juga:Eksplorasi Pasar Loak Lemahwungkuk KesepuhanKeraton Kesepuhan Jadi Pusat Tradisi Dan Adat Cirebon

Kedua adalah kompleks Keraton Pakungwati yang dibangun pada tahun 1529 M oleh Pangeran Mas Zainul Arifin, yang merupakan cicit dari Sunan Gunung Jati . Pangeran Mas Zainul Arifin kemudian bergelar Panembahan Pakungwati I. Keraton baru ini dibangun di sebelah barat daya keraton lama dan dinamai Keraton Pakungwati untuk mengabadikan nama Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati .

Asal Usul Nama Pakungwati

Nama “Pakungwati” memiliki kisah tersendiri yang menyentuh. Sebutan ini berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang dinikahi oleh Sunan Gunung Jati . Ratu Dewi Pakungwati wafat pada tahun 1549 di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua, ketika membantu memadamkan kebakaran yang melanda masjid tersebut .

Untuk menghormati jasa dan pengabdiannya, nama Ratu Dewi Pakungwati diabadikan oleh keturunan Sunan Gunung Jati sebagai nama keraton, yaitu Keraton Pakungwati, yang kemudian dikenal dengan nama Keraton Kasepuhan . Ini adalah bentuk penghormatan yang mendalam terhadap peran perempuan dalam sejarah Kesultanan Cirebon.

0 Komentar