RADARCIREBON.TV – Mendengkur sering kali dianggap sebagai kebiasaan tidur yang biasa dan hanya mengganggu orang di sekitar. Padahal, jika dengkuran terjadi hampir setiap malam serta disertai henti napas saat tidur, kondisi tersebut bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA), gangguan tidur yang berkaitan dengan meningkatnya risiko stroke.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Rony Marethianto Santoso, SpJP, mengingatkan bahwa penderita obstructive sleep apnea memiliki risiko stroke yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Dalam Media Gathering bersama Primaya Hospital Tangerang di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (15/7), Rony menjelaskan bahwa risiko stroke pada penderita OSA bisa meningkat hingga tiga kali lipat.
Baca Juga:Hati-Hati Saat PDKT, Ini 7 Red Flag dalam Chat yang Sering TerjadiGolongan Darah Ini Disebut Punya Risiko Stroke Lebih Tinggi, Simak Temuan Peneliti
Apa Hubungan Mendengkur dengan Risiko Stroke?
Tidak semua orang yang mendengkur mengalami obstructive sleep apnea. Namun, ada beberapa tanda yang patut diwaspadai karena dapat mengarah pada gangguan tersebut.
Menurut dr. Rony, salah satu gejala yang paling mudah dikenali adalah dengkuran keras yang disertai jeda napas saat tidur. Setelah beberapa saat berhenti bernapas, penderita biasanya tampak tersentak untuk kembali menghirup udara.
Kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dengan berat badan berlebih. Karena itu, anggota keluarga atau pasangan juga berperan penting dalam mengenali gejala yang muncul saat seseorang sedang tidur.
Tanda-Tanda Obstructive Sleep Apnea
Beberapa ciri yang perlu mendapat perhatian antara lain:
- Mendengkur keras hampir setiap malam.
- Napas berhenti sesaat ketika tidur lalu kembali dengan hentakan.
- Mengalami kantuk berlebihan pada siang hari meski merasa sudah tidur cukup.
Rony menjelaskan bahwa rasa kantuk yang terus muncul pada siang hari dapat menjadi sinyal bahwa kualitas tidur sebenarnya terganggu akibat masalah pernapasan yang terjadi berulang selama malam.
Mengapa Sleep Apnea Bisa Memicu Stroke?
Obstructive sleep apnea terjadi ketika saluran napas berulang kali menyempit atau bahkan tertutup selama seseorang tidur. Akibatnya, pasokan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak, menjadi berkurang secara berulang.
Kondisi tersebut membuat tubuh mengalami tekanan atau stres setiap malam. Dalam jangka panjang, dampaknya dapat berupa:
