Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen, di luar prakiraan para analis yang sebelumnya memprediksi kenaikan. BI juga mengumumkan sejumlah insentif untuk menarik arus modal masuk serta mendukung nilai tukar rupiah. Kebijakan ini mendapat respons positif dari pasar, terutama sektor properti yang merespons langkah BI mempertahankan suku bunga.
Ketiga, aksi beli di sektor komoditas dan energi. Penguatan IHSG didorong oleh reli saham-saham berbasis komoditas, teknologi, dan perbankan. Dari sisi sektoral, bahan baku memimpin kenaikan, disusul teknologi, energi, dan utilitas. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan emas di tengah memanasnya kembali konflik Timur Tengah. Saham-saham konglomerasi dan emiten komoditas energi dan emas menjadi motor penggerak utama IHSG pada sesi tersebut.
Peringatan: Antara Pemulihan Nyata dan ‘Bull Trap’
Meski sinyal pemulihan IHSG terlihat jelas, para analis mengingatkan investor untuk tetap waspada. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut bahwa kenaikan indeks belum sepenuhnya bullish dan masih berisiko menjadi bull trap. Bull trap merupakan kondisi ketika harga saham atau IHSG tampak menguat sehingga memberi kesan tren turun telah berakhir, padahal kenaikan itu hanya bersifat sementara sebelum akhirnya kembali melemah dan melanjutkan tren penurunan.
Baca Juga:RI Resmi Luncurkan PFII: Pusat Finansial Kelas Dunia, Target Raih Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen4 Saham Blue Chip Ini Aman untuk Pemula, BBRI hingga BBCA
Beberapa tantangan struktural masih membayangi. Arus dana asing belum sepenuhnya kembali ke pasar saham Indonesia. Isu terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), transparansi pasar, dan likuiditas masih menjadi perhatian investor global. Sepanjang 14 hari perdagangan di Juli, investor asing masih mencatat aksi jual bersih, meskipun tekanan jual asing jauh berkurang dibandingkan bulan lalu.
Kepala Riset BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyatakan bahwa IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.700–6.850 middle term jika mampu bertahan di atas level support 6.300–6.330. Namun, jika IHSG tembus kembali di bawah 6.300, maka berpotensi terkoreksi ke level 6.000an. Ia juga mencermati lonjakan harga minyak yang dapat menekan sentimen pasar dan mempengaruhi pergerakan bursa saham global.
