IHSG Menuju Pasar Bull: Reli 20 Persen dari Titik Terendah, Sinyal Pemulihan atau Jebakan?

Ilustrasi Indeks Saham
Ilustrasi Indeks Saham foto: Pexel
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Kabar menggembirakan datang dari dunia investasi Tanah Air. Pasca mengalami tekanan cukup dalam pada awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal kebangkitan yang kuat dan tengah menuju pasar bull atau pasar saham yang sedang mengalami kenaikan signifikan. Pada Kamis (23/7/2026), IHSG berhasil menembus level psikologis 6.400 dan ditutup menguat 1,51 persen ke posisi 6.430,15 pada sesi pertama perdagangan. Capaian ini sekaligus mencatatkan reli IHSG yang melonjak sekitar 20 persen dari titik terendahnya pada awal Juni 2026.

Pertanyaannya kini, apakah ini awal dari tren naik baru (real rebound), atau hanya sekadar bull trap sebelum kembali melemah?.

Kilas Balik: Bangkitnya IHSG dari Titik Terendah

Reli IHSG kali ini terbilang cepat dan masif. Sepanjang 14 hari perdagangan di bulan Juli, indeks hanya satu kali ditutup di zona merah, yaitu pada 8 Juli 2026. Sejak reli dimulai pada 9 Juli 2026, IHSG tercatat telah melonjak sekitar 6,1 persen hanya dalam delapan hari bursa, menjadikannya salah satu penguatan tercepat di tahun ini.

Baca Juga:RI Resmi Luncurkan PFII: Pusat Finansial Kelas Dunia, Target Raih Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen4 Saham Blue Chip Ini Aman untuk Pemula, BBRI hingga BBCA

Penguatan ini juga diikuti dengan peningkatan partisipasi pasar. Pada sesi pagi Kamis (23/7), sebanyak 411 saham menguat, sementara 172 saham melemah. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pun meningkat menjadi Rp11.208 triliun, bertambah sekitar Rp112 triliun. Ini menunjukkan bahwa reli tidak hanya ditopang oleh segelintir saham berkapitalisasi besar, melainkan juga melibatkan partisipasi yang lebih luas.

Penyebab Utama: Apa yang Mendorong IHSG Menguat?

Setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadi pendorong penguatan IHSG menuju pasar bull, yaitu sentimen global, kabar baik dari dalam negeri, serta aksi beli di sektor-sektor tertentu.

Pertama, sentimen global yang kondusif. Tekanan inflasi di Amerika Serikat mulai mereda, sehingga ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) menjadi lebih stabil. Kondisi ini mendorong minat investor kembali ke aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang. Meskipun demikian, konflik di Timur Tengah yang memanas turut menjadi perhatian karena mendorong kenaikan harga minyak.

Kedua, kabar baik dari dalam negeri. Sentimen positif terbesar datang dari keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Keputusan ini sekaligus mematahkan rumor yang sebelumnya beredar di pasar bahwa S&P akan memangkas peringkat maupun outlook Indonesia. S&P menilai tekanan terhadap posisi fiskal dan eksternal Indonesia akibat tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, dan pelemahan rupiah hanya bersifat sementara dan berpotensi membaik.

0 Komentar