Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa ketidakpastian ekonomi global justru meningkatkan kebutuhan akan pusat finansial internasional. “Di situlah demand untuk pusat finansial meningkat,” ujarnya.
Meskipun rencana awal menempatkan PFII di Bali, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan bahwa selama masa transisi 2-3 tahun ke depan, PFII berpotensi beroperasi di Jakarta terlebih dahulu. Gedung Danareksa di Jakarta disebut-sebut akan digunakan sebagai lokasi sementara.
Pendanaan: Danantara dan Dukungan APBN
Pendanaan awal pembangunan PFII tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Investasi awal akan berasal dari investor, termasuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). APBN hanya akan berfungsi sebagai dana cadangan (shock absorber) untuk kebutuhan operasional tertentu jika diperlukan.
Baca Juga:Kontroversi URI: Dari DPR Tak Tahu Menahu hingga Gaji Rangkap GubernurUniversitas Republik Indonesia: Kampus Baru Bentukan Prabowo untuk Cetak Pemimpin Masa Depan
Daya Saing dan Tantangan
PFII dirancang untuk mampu bersaing dengan pusat keuangan internasional ternama seperti Singapura, Hong Kong, dan Dubai. Analis ekonomi menilai PFII memiliki potensi besar menjadi game changer di kawasan ASEAN. Namun, untuk dapat bersaing secara langsung (head-to-head) dengan Singapura, diperlukan strategi yang matang.
Beberapa faktor kunci yang akan menentukan keberhasilan PFII adalah kepastian hukum, transparansi regulasi, dan kepatuhan terhadap standar internasional, termasuk dalam hal pencegahan pencucian uang. UU PFII sendiri telah mengatur pembentukan lembaga arbitrase dan pengadilan khusus untuk menangani sengketa, serta mengadopsi praktik terbaik dan standar global.
Wakil Ketua Komisi XI DPR Mohamad Hekal menegaskan bahwa penyusunan UU PFII tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan merupakan amanat dari Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Ia juga menyebut bahwa Indonesia berada dalam “balap-balapan” dengan negara lain seperti Vietnam dan Uzbekistan yang juga tengah mengembangkan pusat keuangan internasional.
