RADARCIREBON.TV – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan terakhir, rupiah ditutup melemah hingga Rp18.009 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia berada di level Rp17.995 per dolar AS, menunjukkan mata uang Garuda masih menghadapi tekanan dari berbagai sentimen domestik maupun global.
Pelemahan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Selain memengaruhi aktivitas perdagangan, nilai tukar rupiah juga berdampak terhadap harga sejumlah barang impor dan biaya perjalanan ke luar negeri.
Kurs Rupiah Terhadap Mata Uang Asing
Selain dolar AS, berikut kurs transaksi Bank Indonesia untuk beberapa mata uang utama:
Baca Juga:Rupiah Kembali Tembus 18.000 per Dolar AS! Ini 3 Biang Kerok Melemahnya Rupiah Hari IniRupiah Melemah ke Rp17.936 per Dolar AS: Konflik Timur Tengah dan Suku Bunga AS Jadi Biang Kerok
- Dolar AS (JISDOR): Rp17.995
- Euro (EUR): Jual Rp20.575 | Beli Rp20.367
- Poundsterling (GBP): Jual Rp24.090 | Beli Rp23.845
- Dolar Singapura (SGD): Jual Rp13.992 | Beli Rp13.851
- Ringgit Malaysia (MYR): Jual Rp4.416 | Beli Rp4.368
- Dolar Australia (AUD): Jual Rp12.617 | Beli Rp12.490
Data tersebut menjadi acuan transaksi valuta asing yang diterbitkan Bank Indonesia.
Penyebab Rupiah Kembali Tertekan
Beberapa faktor dinilai menjadi pemicu melemahnya nilai tukar rupiah pada perdagangan kali ini.
Transisi kepemimpinan Bank Indonesia, setelah muncul kabar pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter.Sikap wait and see investor menjelang keputusan suku bunga terbaru dari bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).Penguatan dolar AS di pasar global yang membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.Kombinasi faktor tersebut membuat investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman sehingga permintaan terhadap dolar AS meningkat.
Dampak Rupiah Melemah
Pelemahan rupiah tidak selalu langsung dirasakan masyarakat. Namun dalam jangka tertentu, kondisi ini dapat memengaruhi berbagai sektor.
Beberapa dampak yang berpotensi muncul antara lain:
- Harga barang impor menjadi lebih mahal.
- Biaya perjalanan dan pendidikan di luar negeri meningkat.
- Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi kenaikan biaya produksi.
- Nilai pembayaran utang dalam dolar AS menjadi lebih besar.
