Mengenal Hurry Sickness, Saat Hidup Terasa Selalu Dikejar Waktu

Belajar bahasa Inggris
Bahasa Inggris merupakan skill yang tidak akan padam karena merupakan bahasa Internasional. Foto: Kobi Education-Tangkapan layar/radarcirebon.tv
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Pernah merasa tidak nyaman saat harus mengantre, gelisah ketika tidak memegang ponsel, atau selalu terburu-buru meski sebenarnya tidak ada tenggat waktu? Jika jawabannya iya, bisa jadi Anda mengalami fenomena yang dikenal sebagai hurry sickness.

Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang memiliki dorongan terus-menerus untuk melakukan segala sesuatu dengan cepat. Meski bukan termasuk gangguan mental, hurry sickness dapat memengaruhi kesehatan fisik, emosi, hingga kualitas hidup apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Apa Itu Hurry Sickness?

Hurry sickness adalah pola perilaku yang membuat seseorang merasa harus selalu bergerak cepat, produktif, dan menyelesaikan banyak hal dalam waktu bersamaan. Kondisi ini sering muncul di era digital ketika informasi, pekerjaan, dan komunikasi berjalan hampir tanpa jeda.

Baca Juga:Cara Mengatasi Stres dengan Mudah: Langkah Sederhana untuk Hidup Lebih Tenang7 Kebiasaan Positif yang Mengubah Hidup: Transformasi Kecil Berdampak Besar

Tekanan untuk selalu responsif terhadap pesan, mengejar target pekerjaan, hingga melihat pencapaian orang lain di media sosial membuat banyak orang merasa tidak boleh berhenti.

Tanda-Tanda Hurry Sickness

Beberapa kebiasaan yang sering muncul pada seseorang dengan hurry sickness antara lain:

  • Tidak sabar saat mengantre.
  • Merasa bersalah ketika sedang beristirahat.
  • Selalu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking).
  • Sulit menikmati waktu santai karena pikiran masih memikirkan pekerjaan.
  • Sering memotong pembicaraan orang lain karena ingin semuanya berlangsung cepat.

Jika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, tubuh dapat mengalami kelelahan dan tingkat stres meningkat.

Apa Penyebabnya?

Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tuntutan pekerjaan, budaya serba cepat, hingga perkembangan teknologi.

Media sosial juga memiliki peran besar. Banyak orang tanpa sadar membandingkan pencapaiannya dengan orang lain sehingga muncul perasaan harus terus bekerja lebih keras agar tidak tertinggal.

Selain itu, kebiasaan menerima notifikasi sepanjang hari membuat otak sulit benar-benar beristirahat.

Dampak bagi Kesehatan

Jika dibiarkan, hurry sickness dapat memicu stres berkepanjangan. Beberapa orang mengalami sulit tidur, mudah marah, sulit berkonsentrasi, hingga kelelahan mental atau burnout.

Baca Juga:Pendapatan Negara Rp1.459 Triliun, APBN Semester I 2026 Defisit Rp196,5 TriliunNanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

Dalam jangka panjang, stres yang tidak terkendali juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, seperti meningkatkan risiko tekanan darah tinggi maupun gangguan kecemasan.

0 Komentar