Pertama, ketersediaan air melalui pengisian waduk. BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta mitra swasta akan mengintensifkan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan cadangan air di waduk-waduk. Indonesia memiliki sekitar 240 waduk yang menjadi sasaran pengisian cadangan air. Waduk-waduk ini akan difungsikan untuk mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), irigasi pertanian, dan penyediaan air bersih.
Kedua, antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG akan melakukan operasi modifikasi cuaca secara berkala di enam provinsi prioritas untuk membasahi lahan gambut agar tetap jenuh air dan tidak mudah terbakar. Enam provinsi yang menjadi fokus utama adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Selain itu, operasi modifikasi cuaca juga akan dilakukan secara situasional di Kepulauan Riau dan Aceh.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh lengah dalam menghadapi El Nino mengingat derajatnya bisa terus meningkat. “Potensi El Nino yang juga mungkin menghadirkan bencana di negeri kita. Kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin agar El Nino yang berhimpit dengan masa kemarau tidak terlalu menghadirkan permasalahan yang terlalu berarti bagi masyarakat kita, termasuk mengganggu sektor pangan dan ekonomi secara keseluruhan,” ujar AHY.
Baca Juga:Konflik Iran-AS Kembali Memanas: Iran Luncurkan Rudal Balistik, AS dan Saudi Serang Milisi di IrakPrabowo: Semua Pakar Ramalkan Ekonomi RI Lampaui Negara Eropa dalam 25 Tahun
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak El Nino kuat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menghemat penggunaan air di wilayah yang mulai mengalami kekeringan serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin.
Selain kekeringan dan karhutla, BMKG juga memperingatkan potensi angin kencang di sejumlah wilayah hingga awal Agustus 2026. Meskipun demikian, hujan masih berpotensi terjadi secara lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin.
Dengan intensitas El Nino yang terus menguat dan dampak yang diprediksi lebih parah dari tahun 2023, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi fenomena cuaca ekstrem ini.
