Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah Kabupaten Cirebon. Di tengah persoalan TPS liar dan keterbatasan armada pengangkut, Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin, justru membuktikan sampah bisa menjadi sumber penghasilan. Tiga ton sampah setiap hari diolah menjadi pupuk organik dan produk bernilai ekonomi melalui instalasi pengelolaan sampah Masaro.
Persoalan sampah masih menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Cirebon, TPS liar masih mudah ditemukan, armada pengangkut masih terbatas, sementara volume sampah terus bertambah.
Namun, kondisi berbeda justru terlihat di Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin. Di saat pemerintah masih berjibaku dengan persoalan sampah, desa ini malah sudah mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
Baca Juga:Kemarau Mengancam, 8 Ribu Hektare Sawah Indramayu Mulai Dihantui Kekeringan – VideoSungai Jadi Tempat Pembuangan Sampah Dan Limbah, Pemkot Cirebon Bentuk Satgas Peduli – Video
Di instalasi pengelolaan sampah Masaro, sekitar tiga ton sampah setiap hari diolah, sampah organik diproses menjadi kompos dan pupuk cair. Sementara sampah anorganik diolah menggunakan incinerator.
Bukan sekadar dibakar dan dibuang, hasil pembakaran pun masih dimanfaatkan kembali sebagai campuran kompos.
Sedangkan material hasil penyaringan asap dimanfaatkan sebagai bahan campuran pestisida organik. Hasilnya, lahir pupuk organik bermerek Masaro.
Bukan hanya dimanfaatkan warga sekitar, pupuk ini bahkan sudah diminati hingga luar pulau Jawa, seperti Toraja, Dumai, Lombok, hingga Jakarta.
Ironisnya, ketika desa sudah mampu menyelesaikan sampah di tingkat lokal, persoalan sampah di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon masih menjadi tantangan. Desa Babakan dengan keterbatasan yang dimiliki justru mampu menangani sampah, membuka lapangan kerja, sekaligus menghasilkan produk yang memiliki pasar.
Instalasi ini dikelola secara mandiri. Hasil penjualan pupuk digunakan untuk operasional, perawatan alat, dan membayar enam pekerja lokal. Pemerintah desa sendiri berperan sebagai fasilitator, terutama dalam penyediaan lahan dan perizinan.
Pertanyaannya, jika sampah tiga ton sehari saja bisa diubah menjadi pupuk dan menghasilkan uang? Mengapa pengelolaan sampah di tingkat kabupaten masih menjadi persoalan?
Baca Juga:Desa Babakan Ciwaringin Berhasil Kelola Sampah Secara Mandiri – VideoBelanja Pegawai Tekan APBD, BKAD Siapkan Strategi Jaga Fiskal Cirebon – Video
Desa Babakan setidaknya sudah memberikan contoh. Sampah bukan hanya untuk diangkut dan dibuang, tetapi bisa dikelola, dimanfaatkan, dan bahkan menjadi sumber pendapatan.