Musim kemarau mulai menguji ketahanan petani Indramayu. Di balik status sebagai salah satu lumbung padi nasional, ancaman kekeringan kini mengintai ribuan hektare lahan pertanian. Pemerintah menyebut sekitar 8 ribu hektare sawah berpotensi terdampak akibat menurunnya ketersediaan air.
Tanah mulai mengering, saluran irigasi terancam menyusut, dan petani harus berhitung dengan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian atau DKPP Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto, mengatakan perubahan iklim membuat petani harus lebih siap menghadapi risiko kekeringan.
Baca Juga:Herman Khaeron Dorong UMKM Naik Kelas – Video317 Objek Jadi Sasaran Penertiban Disepanjang Jalan Kesambi – Video
Berdasarkan hasil evaluasi musim tanam kedua, dari sekitar 113 ribu hektare lahan yang telah ditanami, sekitar 8 ribu hektare saat ini teridentifikasi memiliki potensi terdampak kekeringan.
Meski belum ada laporan lahan mengalami puso atau gagal panen, pemerintah tetap mewaspadai pergerakan kondisi di lapangan. Terutama karena sekitar 6 hingga 7 ribu hektare lahan diperkirakan tidak bisa ditanami pada musim ini akibat terbatasnya pasokan air.
Wilayah barat Indramayu menjadi daerah yang paling rawan terdampak. Seperti Kecamatan Kandanghaur, Gabuswetan, dan sejumlah desa di Kecamatan Bongas.
Pemerintah Kabupaten Indramayu terus berupaya menekan dampak kekeringan dengan memperkuat informasi iklim bagi petani. Melalui data dan prediksi cuaca, petani diharapkan mampu menentukan langkah yang tepat agar risiko gagal panen dapat dicegah.
Karena di tengah musim kemarau, setiap tetes air menjadi harapan bagi ribuan hektare sawah dan masa depan hasil panen petani Indramayu.