Belanda Menjajah Indonesia Ratusan Tahun, Kok Bahasa Belandanya Tak Populer? Ini Alasannya

foto
ilustrasi: gemini
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-81 pada 17 Agustus 2026. Jika menengok sejarah, Nusantara pernah melewati masa penjajahan yang amat panjang oleh bangsa-bangsa asing, salah satunya Belanda.

Uniknya, masa pendudukan yang begitu lama tidak lantas membuat masyarakat Indonesia fasih berbahasa Belanda.

Hal ini sangat berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Sebagai sesama bekas jajahan Inggris, mayoritas penduduk di kedua negara tersebut justru sangat mahir berbahasa Inggris.

Baca Juga:GTA 6 Siap Pamer Gameplay 30 Menit di Netflix, Catat Tanggal Tayangnya!Rodri Tinggalkan Man City, Barcelona Siapkan Transfer Rp1,6 Triliun! City Langsung Incar Pengganti

Lantas, mengapa bahasa Belanda tidak melekat kuat di lidah masyarakat Indonesia? Pengaruh bahasa Belanda di Nusantara praktis hanya tersisa dalam bentuk kata serapan sehari-hari, seperti kantoor menjadi kantor, bioscoop menjadi bioskop, atau gordijn yang diserap menjadi gorden.

Perbedaan Gaya Menjajah: Inggris vs Belanda

Peneliti sejarah dari Nanyang Technological University, Christopher Reinhart, menjelaskan bahwa perbedaan ini berakar dari pola kolonialisme yang diterapkan kedua negara penjelajah tersebut.

Inggris cenderung melakukan invasi budaya di wilayah jajahannya. Kebudayaan Barat disebarkan secara sengaja hingga berbaur erat dengan budaya lokal. Kebijakan ini yang akhirnya membuat masyarakat Melayu di Malaysia dan Singapura akrab dengan bahasa Inggris.

Sebaliknya, Belanda mengambil pendekatan yang sangat berbeda di Indonesia karena dua alasan utama:

– Ego Kelas Sosial dan Struktur Kolonial: Pemerintah kolonial Belanda menerapkan stratifikasi sosial yang sangat kaku. Orang Belanda menempatkan diri di kasta tertinggi, sementara warga lokal berada di posisi paling bawah.

Menurut Belanda, mengajarkan bahasa dan budaya mereka kepada warga pribumi sama saja dengan mengakui kesetaraan derajat. Mereka sengaja membatasi akses bahasa Belanda agar jarak sosial dan superioritas tetap terjaga.

– Fokus Murni pada Eksploitasi Ekonomi: Bagi Belanda, prioritas utama menjajah adalah mengeruk keuntungan ekonomi sebesar-besarnya. Selama hasil bumi terus mengalir, mereka tidak merasa perlu memusingkan urusan penyebaran budaya.

Baca Juga:PSG Datangkan Mika Godts, Harga Bradley Barcola Bisa Turun?Prabowo Ungkap Jurus Baru Kejar Swasembada Daging: Indonesia Siapkan Teknologi Kloning Sapi

Reinhart mengutip pernyataan pejabat pemerintah kolonial masa lalu, Snouck Hurgronje, yang pernah menegaskan bahwa urusan kebudayaan tidak perlu dipaksakan. Biarkan budaya lokal tumbuh dengan sendirinya tanpa harus digusur oleh budaya Belanda.

Warisan yang Membentuk Bahasa Indonesia

0 Komentar