Ketersediaan air masih menjadi tantangan utama sektor pertanian di Kabupaten Cirebon, khususnya saat musim kemarau. Sejumlah areal persawahan belum dapat ditanami secara optimal karena keterbatasan pasokan air. Kondisi ini berdampak pada frekuensi tanam dan produktivitas lahan.Ketersediaan air masih menjadi tantangan utama sektor pertanian di Kabupaten Cirebon, khususnya saat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat sebagian lahan pertanian hanya mampu ditanami satu kali dalam setahun. Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon pun berupaya mengoptimalkan produktivitas lahan melalui peningkatan indeks pertanaman.Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya mengatakan, lahan yang sebelumnya hanya mampu melakukan dua kali musim tanam atau MT2, ditargetkan dapat ditingkatkan menjadi MT3. Sementara lahan yang baru mampu melakukan satu kali tanam atau MT1, diupayakan meningkat menjadi MT2.Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan produksi pertanian tanpa harus menambah luas lahan. Dengan memaksimalkan masa tanam, produktivitas lahan yang tersedia di Kabupaten Cirebon diharapkan dapat terus meningkat.Selain peningkatan indeks pertanaman, ketersediaan air juga menjadi perhatian dalam menjaga keberlanjutan produksi. Terutama untuk memastikan lahan tetap dapat dimanfaatkan saat musim kemarau.Pemenuhan kebutuhan irigasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung target tersebut. Dengan ketersediaan air yang lebih optimal, petani diharapkan dapat meningkatkan frekuensi tanam sekaligus produksi pertanian di Kabupaten Cirebon.