RADARCIREBON.TV – Kasus keracunan massal yang dialami Febiola Br Purba (16), siswi SMK Swasta Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, menjadi sorotan nasional. Hasil laboratorium dari sampel makanan yang dikonsumsi korban mengungkap adanya tiga jenis bakteri: Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli).
Dokter Ferry Kusmalingga melalui unggahannya mencoba membedah hasil laboratorium dari kasus keracunan yang terjadi di sekolah tersebut. Temuan ini berasal dari beberapa jenis sampel MBG yang dikonsumsi Febiola. Pada sampel nasi dari sekolah, ditemukan bakteri Bacillus cereus. Sementara pada sampel ikan dan saus dari sekolah, ditemukan Staphylococcus aureus. Kemudian, pada sampel melon dari sekolah, ditemukan E. coli. Menariknya, Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel muntahan siswa. Sedangkan pemeriksaan terhadap Salmonella menunjukkan hasil negatif.
Bahaya Staphylococcus aureus
Menurut dr. Ferry, salah satu penyebab keracunan yang sudah jelas dari hasil pemeriksaan tersebut adalah ditemukannya Staphylococcus aureus. Bakteri ini dapat mencemari makanan melalui tangan penjamah makanan maupun dari kulit dan hidung manusia. Risiko semakin besar apabila makanan kemudian disimpan pada suhu yang tidak tepat sehingga bakteri dapat berkembang biak. Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan keracunan melalui enterotoksin yang dihasilkannya. Yang menjadi persoalan, toksin tersebut dapat tahan terhadap panas, sehingga meskipun bakterinya mati akibat pemanasan, toksinnya masih dapat bertahan. Toksin yang dihasilkan bakteri ini dapat menyebabkan muntah hebat, mual, kram perut, dan diare.
Baca Juga:Profil Febiola Siswi SMK Korban MBG, Juara Kelas dan Wakil OSIS Kini Kehilangan Ingatan 70%Dampak MBG, Harga Daging Ayam Naik – Video
Bacillus cereus pada Nasi
Temuan berikutnya adalah Bacillus cereus pada sampel nasi dari sekolah. Bakteri tersebut dikenal sebagai bakteri pembentuk spora dan sering dikaitkan dengan makanan tinggi karbohidrat, seperti nasi, pasta, atau mi. Menurut dr. Ferry, kondisi yang memungkinkan Bacillus cereus berkembang antara lain makanan dimasak dalam jumlah banyak, kemudian dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang atau tidak disimpan kembali dengan benar. Bakteri ini juga dapat menghasilkan toksin yang menyebabkan muntah maupun diare akut.
E. coli pada Melon
Sementara itu, sampel melon dari sekolah dinyatakan positif mengandung E. coli. Temuan ini menjadi perhatian karena beberapa strain E. coli dapat menyebabkan kondisi serius, termasuk gangguan pada ginjal. Salah satunya adalah kelompok Shiga toxin-producing E. coli (STEC). Infeksi oleh strain tertentu dapat menyebabkan diare berat atau berdarah dan dalam kondisi tertentu berkembang menjadi hemolytic uremic syndrome (HUS) yang dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah, penurunan trombosit, hingga cedera ginjal akut.
