Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof Rokhmin Dahuri, beri catatan kritis untuk program bioflok nasional milik KKP. Pakar kelautan kelas dunia itu menyebut, 70 persen bioflok belum maksimal karena aerasi tak tepat, dan kuncinya ada di Belawa, Lemahabang, Cirebon.
Bukan sekadar kunjungan seremonial, ini adalah pembuktian seorang pakar perikanan kelas dunia. Prof. Rokhmin Dahuri, anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, turun langsung ke Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon.
Di sini, ia meninjau langsung kondisi penerima bantuan budidaya ikan sistem bioflok tahun 2026, dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, milik Kelompok Belawa Selfish yang digawangi Bayu.
Baca Juga:Merger BPR Diarahkan Perluas Akses Pembiayaan UMKM – VideoGenerasi Milenial Terima Apresiasi di Hari Sumpah Pemuda – Video
Guru Besar IPB yang dijuluki bapak kelautan Indonesia itu membedah tuntas, mengapa 70 persen bantuan bioflok di Indonesia dinilai belum maksimal. Dengan gaya khas seorang profesor, ia menegaskan, kegagalan itu bukan karena petaninya malas atau tidak becus merawat ikan, tapi karena mesinnya yang salah sejak awal.
Aerasi bawaan dari bantuan pemerintah dinilai kekuatannya terlalu kecil, daya listriknya hanya sekitar 100 watt, semburan udaranya lemah, tidak mampu mengaduk air kolam secara merata. Akibatnya fatal, oksigen di dasar kolam hilang, bakteri baik pengurai limbah mati, gumpalan floc sebagai kunci bioflok tidak terbentuk, air cepat bau menyengat, ikan stres, tidak nafsu makan, hingga akhirnya mati massal, petani pun rugi bandar.
Sebagai pakar kelautan dan perikanan, Prof Rokhmin langsung memberikan resep jitu, yang sudah terbukti 100 persen berhasil diterapkan di Belawa. Kuncinya cuma satu dan sederhana, ganti aerasi kecil dengan mesin rakitan yang lebih besar dan lebih kuat. Dari yang semula hanya 100 watt, naikkan jadi 200 hingga 300 watt per kolam, dengan tekanan udara yang kencang, oksigen melimpah ruah dari permukaan hingga dasar kolam, proses biologis berjalan sempurna, kotoran dan sisa pakan diurai bakteri menjadi gumpalan floc berwarna coklat. Floc inilah harta karun bioflok, karena dimakan lagi oleh ikan, menjadi pakan gratis alami yang kaya protein tinggi.
Hasilnya sangat nyata dan bisa dihitung, pakan pelet irit hingga 30 persen, tak perlu lagi mengganti air berkali-kali, ikan sehat, pertumbuhan cepat, panen lebih singkat, dan keuntungan pun bisa didapat hingga dua kali lipat, dibanding sistem konvensional. Inilah yang membuat Kelompok Belawa Selfish bertahan dan sukses, di tengah banyak kelompok lain yang gulung tikar.