RADARCIREBON.TV – Aksi vandalisme di Gedung Majalengka Creative Center (MCC) yang berujung laporan polisi mendapat perhatian dari kalangan komunitas kreatif. Sejumlah tokoh menilai, penanganan kasus tersebut perlu disertai pendekatan dialog agar latar belakang tindakan anak muda dapat dipahami. Sebelumnya, Ketua Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Majalengka, H Baya, melaporkan aksi vandalisme di Gedung MCC kepada Satreskrim Polres Majalengka, Rabu (4/11/2026).
Lima Titik Jadi Sasaran Coretan
Sedikitnya lima titik menjadi sasaran coretan, mulai dari ornamen berwarna perak, tiang putih, lantai hingga dinding gedung. Meski tidak ditemukan kerusakan fisik yang berarti, Baya menilai aksi tersebut telah merusak estetika fasilitas publik. Menanggapi peristiwa itu, tokoh kreatif Majalengka sekaligus pendiri Posyandu Terakota Majalengka, Kadus Ila, mengajak semua pihak melihat persoalan tersebut dari perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, coretan di gedung yang dibangun sebagai ruang kreativitas itu tidak serta-merta dapat dipandang sebagai bentuk kenakalan remaja. Bisa jadi, tindakan tersebut merupakan ekspresi kekecewaan atau pesan dari kalangan anak muda yang selama ini merasa kurang dilibatkan. “Bisa jadi coretan-coretan di dinding Gedung Creative Center bukan sekadar ekspresi kenakalan anak muda. Ada kemungkinan di baliknya tersimpan rasa memiliki dari generasi yang selama ini merasa tidak dilibatkan, tidak didengar, bahkan terlupakan,” kata Ila, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga:Babak Penentu! Jokowi Akhirnya Buka Suara di Pengadilan, Apakah Roy Suryo dan dr Tifa Bakal Jadi Tersangka?Dendam Sejak April 2026, Tetangga Habisi Pemilik Rumah Mewah di Indramayu
Dorong Dialog dan Pelibatan Anak Muda
Ia menduga, tindakan tersebut juga berkaitan dengan terbatasnya ruang bagi anak muda untuk menyampaikan aspirasi dan mengekspresikan diri. “Mereka mungkin tidak tahu bagaimana cara menyampaikan aspirasi, tidak menemukan ruang untuk berekspresi, atau tidak merasa menjadi bagian dari proses yang membangun ruang tersebut,” tuturnya.
Ila menilai, kondisi itu menjadi ironi ketika sebuah gedung yang dibangun atas nama kreativitas justru berpotensi terasa jauh dari kehidupan generasi muda di sekitarnya. “Ironis, sebuah gedung yang dibangun atas nama kreativitas justru bisa terasa jauh dari kehidupan anak-anak muda di sekitarnya,” imbuhnya.
Meski demikian, Ila menegaskan bahwa tindakan vandalisme tidak dapat dibenarkan. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menghakimi pelaku tanpa terlebih dahulu memahami latar belakang tindakannya. Dialog dan pelibatan anak muda dalam pengelolaan ruang kreatif dinilai menjadi solusi yang lebih konstruktif. RADARCIREBON.TV akan terus menyajikan informasi terbaru seputar peristiwa ini dan kegiatan komunitas kreatif untuk Anda.
