Soeharto Sudah Lebih Dulu Jalankan Program Makan Bergizi Gratis

Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG)
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG) Foto : pinterest
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi salah satu andalan pemerintahan Prabowo Subianto ternyata bukan hal baru di Indonesia. Jauh sebelumnya, Presiden ke-2 RI Soeharto telah lebih dulu menjalankan program serupa pada era 1990-an melalui kebijakan Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS).

Program PMT-AS pertama kali diluncurkan pada tahun 1991 sebagai solusi untuk mengatasi masalah kekurangan gizi yang masih tinggi di kalangan anak sekolah, khususnya di daerah tertinggal. Saat itu, pemerintah melihat bahwa kurangnya asupan gizi tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada rendahnya tingkat kehadiran dan tingginya angka putus sekolah.

Pada tahap awal pelaksanaannya, program ini dijalankan di 11 provinsi, mulai dari Aceh, Sumatra Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Utara hingga Irian Jaya. Jumlah penerima manfaat mencapai lebih dari 41 ribu siswa. Makanan yang diberikan bukan berupa makanan berat, melainkan makanan ringan atau snack yang diolah dari bahan pangan lokal sesuai hasil pertanian di masing-masing daerah.

Baca Juga:Anggaran MBG di APBN 2026 Jauh Lebih Besar Dibanding Beasiswa KIP KuliahProgram MBG Tetap Bergulir Selama Ramadan – Video

Pemerintah menetapkan sejumlah ketentuan dalam pelaksanaan program tersebut, di antaranya kandungan gizi sebesar 200–300 kilokalori dengan minimal 5 gram protein. Selain itu, biaya penyediaan makanan juga diatur, yakni sekitar Rp250 untuk wilayah Indonesia Barat dan Rp350 untuk wilayah Indonesia Timur. Menariknya, program ini melarang penggunaan makanan olahan dari kota seperti mi instan atau susu kemasan, guna mendorong pemanfaatan bahan lokal.

Tidak hanya memberikan makanan tambahan, pemerintah juga membagikan obat cacing dan tablet zat besi kepada siswa. Langkah ini bertujuan untuk mencegah anemia serta meningkatkan kesehatan anak secara menyeluruh. Program ini dijalankan selama sembilan bulan dan melibatkan berbagai pihak, seperti guru, orang tua, hingga kader PKK.

Hasilnya cukup signifikan. Berdasarkan berbagai kajian, program PMT-AS berhasil menurunkan angka kekurangan gizi serta meningkatkan minat belajar siswa. Tingkat kehadiran di sekolah pun meningkat. Keberhasilan ini mendorong pemerintah untuk memperluas cakupan program ke seluruh Indonesia.

Pada tahun 1997, pemerintah bahkan mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 tentang PMT-AS sebagai bentuk penguatan kebijakan. Seiring waktu, jumlah penerima terus meningkat, hingga mencapai jutaan siswa di puluhan ribu sekolah pada akhir 1990-an.

0 Komentar