RADARCIREBON.TV – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berbalik melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026) siang. Setelah sempat menguat di awal sesi, rupiah kembali tertekan.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 13.13 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini terkoreksi 21,5 poin atau 0,12 persen ke level Rp 17.675 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,08 persen ke level 99,16. Penguatan dolar AS ini ikut menekan nilai tukar rupiah.
Baca Juga:Bank Indonesia Kuras Cadangan Devisa 10 Miliar Dollar AS demi Selamatkan Rupiah, Ini Penjelasan Perry WarjiyoRupiah Sentuh Rp17.728 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Inflasi AS Jadi Biang Kerok
Pada perdagangan Rabu (20/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat ditutup menguat 52 poin di level Rp 17.653. Namun penguatan itu tidak bertahan lama.
Harga Minyak Masih Jadi Momok
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh harga minyak yang masih tinggi. Harga minyak mentah dunia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp 17.690 hingga 17.740, dipengaruhi oleh faktor global harga minyak yang masih di atas 100 dolar AS per barel dan indeks dolar yang masih kuat, ucap Rully dikutip dari Antara.
Harga minyak hari ini terlihat melesat 0,83 persen ke level 106,4 dolar AS per barel saat berita ini ditulis. Angka ini masih jauh di atas asumsi APBN 2026 yang sebesar 70 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada beban subsidi energi pemerintah. Semakin tinggi harga minyak, semakin besar subsidi yang harus dikeluarkan.
Kondisi Fiskal Dinilai Rapuh
Dari sisi domestik, Rully mengatakan kondisi fiskal pemerintah dinilai cenderung rapuh. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain tekanan geopolitik, harga minyak, subsidi, dan insentif untuk menjaga daya beli masyarakat.
Pidato Presiden Prabowo Subianto masih harus dicermati lebih mendalam lagi dengan kondisi fiskal yang rapuh saat ini mengingat tax ratio Indonesia tidak pernah beranjak di atas 10 persen dari GDP, ungkap Rully.
Baca Juga:Bank Indonesia Kuras Cadangan Devisa 10 Miliar Dollar AS demi Selamatkan Rupiah, Ini Penjelasan Perry WarjiyoHampir Podium di WorldSSP Ceko 2026, Aldi Satya Mahendra Makin Pede: Target Lima Besar di Seri Selanjutnya!
Tax ratio atau rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia memang masih rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Ini membuat ruang fiskal pemerintah terbatas.
Ketika terjadi guncangan eksternal seperti kenaikan harga minyak, pemerintah tidak punya banyak opsi selain menambah utang atau memotong belanja di sektor lain.
