RADARCIREBON.TV – Meski mengonfirmasi Michael Carrick sebagai manajer permanen Manchester United untuk musim 2026/2027, klub sebenarnya sempat memburu target “mimpi rahasia” yang lebih prestisius. Dilaporkan oleh pakar transfer Fabrizio Romano, pelatih Paris Saint-Germain, Luis Enrique, ternyata adalah incaran diam-diam para petinggi Setan Merah sebelum akhirnya mempertahankan Carrick.
MU mulai tancap gas memburu pelatih baru. Klub bergerak lebih awal, mencari pelatih top dunia pada Januari 2026, saat Ruben Amorim dipecat karena hasil buruk. Akan tetapi, incaran mereka, yaitu mantan pelatih Barcelona yang membawa PSG ke final Liga Champions tersebut, memilih untuk fokus penuh pada proyeknya di Paris.
Kans Gagal, Enrique Fokus Proyek Paris
Berdasarkan keterangan Fabrizio Romano di kanal YouTube-nya, alasan utama gagalnya MU mendatangkan Enrique memang berasal dari pihak pelatih itu sendiri. Pada periode Januari hingga Februari 2026, Setan Merah berupaya mati-matian melobi manajemen PSG dan sang pelatih. Sayangnya, Enrique sama sekali tidak tergoda, dan memilih bertahan di Paris.
Baca Juga:11 Momen Sakral yang Mengantar Arsenal Juara Premier League, Dari Keputusan Kontroversial Hingga Kutukan PalacBelum Sempat Nikmati Super League, Garudayaksa FC Sudah Ditinggal Arsitek Keberhasilannya
“Look, on Luis Enrique I can tell you that he was the secret dream of some important, important people at Manchester United. So Man United around January, February tried to understand if there was maybe a chance to land Luis Enrique to the club this summer. Was not possible because Luis Enrique is completely focused on the Paris Saint-Germain Project,” ujar Romano di Channel Youtube-ya.
Situasi ini membuat rencana “Mimpi Indah” para petinggi Old Trafford pupus sudah. Alhasil, Michael Carrick yang hanya diplot sebagai solusi sementara justru membuktikan kapasitasnya dengan membawa MU finis ketiga.
Strategi Jangka Pendek Berbuah Manis Bersama Carrick
Dengan Enrique yang batal, MU mulai tancap gas mempromosikan Michael Carrick. Awalnya ia hanya ditunjuk untuk “memadamkan api” dari puing-puing skuat yang ditinggalkan Ruben Amorim. Namun, dengan kemampuan manajerial yang tak terduga, Carrick sukses membawa 11 kemenangan dari 16 pertandingan.
Keberhasilan membawa klub kembali ke Liga Champions menjadi “tiket emas” bagi Carrick. Setelah performa impresif itu, para petinggi akhirnya yakin bahwa ia adalah solusi jangka panjang. Meski hanya opsi kedua, Carrick dinilai layak dipermanenkan karena adaptasinya yang cepat.
