Bersama Barcelona, ia sukses mempersembahkan trofi La Liga di usianya yang matang. Ia bahkan ikut mencatatkan gol penting kala El Barca mengalahkan Real Madrid di laga penentuan nasib yang membuat mereka dikukuhkan sebagai juara. Gol tersebut terjadi di menit ke-78, ketika Rashford menerima umpan terobosan dari Pedri dan dengan tenang menaklukkan kiper Real Madrid. Kemenangan 2-1 itu menjadi titik balik perburuan gelar La Liga musim ini. Selain itu, Rashford juga berkontribusi dalam perjalanan Barcelona ke babak perempat final Liga Champions, meskipun akhirnya mereka tersingkir oleh Atletico Madrid.
Kini, spekulasi mengenai masa depan Rashford mulai mengemuka. Barcelona dikabarkan tertarik untuk mempermanenkannya, sementara Manchester United harus memutuskan apakah akan memanggilnya kembali atau melepasnya secara permanen. Nilai transfer Rashford diperkirakan mencapai 60-70 juta euro, sebuah jumlah yang tidak kecil bagi MU yang sedang membutuhkan dana segar untuk belanja pemain baru. Apapun keputusannya, Rashford telah membuktikan bahwa ia masih layak diperhitungkan di level tertinggi.
2. Jadon Sancho: Meski Minim Menit Bermain, ‘Beruntung’ Angkat Piala Europa
Dari segi statistik, saga yang dialami Jadon Sancho tidak seekstrem sang rekan. Hanya mencatatkan 1 gol dan 3 assist dari 39 laga, ia bahkan lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan saat musim bergulir. Namun “keberuntungan” memihaknya: Aston Villa, tim yang meminjamnya, sedang dalam performa terbaik di bawah arahan Unai Emery. Sancho seringkali hanya menjadi pemain rotasi di Piala Liga dan Piala FA, tetapi ia tetap profesional dan tidak pernah mengeluh.
Baca Juga:Resmi! Hansi Flick Perpanjang Kontrak di Barcelona hingga 2028, Target Liga Champions Masih MembaraRobert Lewandowski Meneteskan Air Mata di Laga Perpisahan, Barcelona Beri Penghormatan Layak untuk Sang Legend
Sancho turun sebagai pemain pengganti pada menit ke-80 dan menjadi bagian selebrasi saat The Villans sukses mengalahkan Freiburg di final dengan skor 3-0 untuk merengkuh trofi Liga Europa. Meskipun ia hanya bermain sekitar 10 menit di partai final, kontribusinya sepanjang turnamen tidak bisa diabaikan. Ia mencetak satu assist di babak grup dan tampil solid di laga melawan Ajax di babak 16 besar. Ini menjadi piala Eropa pertama sejak 1982 untuk klub Birmingham tersebut, sekaligus gelar Eropa ketiga bagi Unai Emery.
