Torvalds Pusing Banjir Bug AI

Linus Torvalds
Linus Torvalds berbicara di atas panggung di Open Source Summit 2026 sumber img: pinterest
0 Komentar

“Bila Temuan Cuma Hasil Gacoran AI, Ya Udah Gak Perlu Ditutup-tutupi”

Linus juga menyoroti ironi perlakuan laporan AI yang selama ini dianggap “wah” dan dirahasiakan di milis tertutup. Baginya, cara seperti itu cuma bikin pekerjaan tim makin membengkak, karena para pelapor yang satu gak bisa melihat laporan yang udah dikirim orang lain.

“Hanya untuk sedikit klarifikasi: kalau elo nemu bug pake alat AI, kemungkinan besar elo bukan satu-satunya yang nemuin. Memperlakukan temuan semacam ini di daftar privat itu cuma buang-buang waktu semua orang yang terlibat — dan bikin masalah duplikasi makin parah,” tegas Linus dengan nada kesal dikutip dari DetikInet pada Sabtu (23/5/2026).

Maka dari itu, aturan barunya terang-terangan menyebut bahwa temuan bug yang terdeteksi AI pada dasarnya bukanlah rahasia publik dan gak layak untuk dibahas di ruang tertutup.

Baca Juga:Dari Hobi di Halaman Rumah, Kini Kebun Anggur Suherman di Siak Jadi Pusat Perhatian dan Cuan BerlipatProyek Ambisius Bikin Gempar di 2026: Konsep GPU Setara 5060 Ti, Cuma Kekuatannya Balik ke Masa Lalu 4 Tahun!

Bukan Nglarang, Minta Tolong Divalidasi Dulu Sebelum Ngirim!

Meski kesal, Linus menegaskan bahwa kernel Linux tidak anti terhadap AI. Faktanya, belakangan ini terjadi lonjakan hingga 20 persen lebih kontribusi kode dari berbagai pihak yang terbantu oleh alat AI. Bahkan beberapa kerentanan kritis seperti “Copy Fail”, yang berdampak pada hampir seluruh distro Linux, berhasil terdeteksi karena bantuan AI.

Namun, ia memperingatkan agar para peneliti tidak sekadar menjadi “driver AI” yang asal comot laporan tanpa paham isinya. “Kalau elo mau kasih nilai tambah, baca dokumentasinya, bikin juga tambalan (patch), dan kasih nilai nyata di atas apa yang dikerjakan AI. Jangan jadi tipe orang yang cuma sekilas baca lalu ngirim laporan acak tanpa pemahaman sama sekali,” tandasnya.

Pernyataan Linus ini diamini oleh insinyur keamanan senior GitHub, Jarom Brown. Menurutnya, temuan AI yang udah divalidasi, bisa direproduksi, dan disertai bukti konsep yang berfungsi adalah laporan yang luar biasa. Sementara output AI mentah yang gak jelas dampaknya cuma jadi sampah digital yang menghambat pekerjaan.

Banjir Gak Hanya di Linux, Dampaknya Mulai Meluas

Fenomena “sampah AI” ini ternyata bukan cuma di Linux. Masalah yang sama juga mulai menggerus mental para sukarelawan pengelola perangkat lunak sumber terbuka (open source) lainnya, seperti curl. Daniel Stenberg, pengelola curl, sampai harus menutup program bug bountynya karena tenggelam dalam banjir laporan. Sepanjang tahun 2025, kurang dari 5 persen laporan yang masuk ke proyeknya bisa dinyatakan valid.

0 Komentar