Pendaftaran Sekolah Maung di Cirebon Membludak, Banyak Orang Tua Ubah Strategi di Menit Terakhir

pendaftaran Sekolah Maung
Antrean panjang terjadi di pusat layanan SPMB SMAN 2 Cirebon jelang penutupan pendaftaran Sekolah Maung 2026. - Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Antusiasme warga Cirebon terhadap program Sekolah Maung (Manusia Unggul) terus meroket di penghujung masa pendaftaran. Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 yang akan ditutup hari ini, Jumat (29/5/2026), membuat para orang tua dan calon siswa berlomba-lomba menyelesaikan berkas.

Fenomena paling mencolok terjadi di SMAN 2 Cirebon. Hingga Kamis siang (28/5/2026) atau H-1 penutupan, jumlah berkas elektronik yang sudah di-submit mencapai 408 pendaftar. Angka ini sudah melampaui kuota yang tersedia, yaitu hanya 384 kursi. Artinya, persaingan dipastikan bakal sengit!

Suasana Panik di Pusat Layanan, Orang Tua Antre Sejak Subuh

Lonjakan pendaftar ini membuat pusat layanan informasi SPMB SMAN 2 Cirebon berubah menjadi lautan manusia. Sejak pintu dibuka, ruang pelayanan dipadati wali murid yang rela antre panjang demi mendapat kepastian informasi. Mereka datang bersama anak-anaknya yang baru lulus SMP, tampak serius berdiskusi dengan operator sekolah.

Baca Juga:Pendaftar Sekolah Maung SMAN 2 Kota Cirebon Memenuhi Kuota – VideoNilai TKA 2026 Ungkap Perbedaan Sekolah Negeri dan Swasta, SD Swasta Justru Lebih Unggul

Bahkan, seorang orang tua asal Kabupaten Indramayu disebut sudah datang sejak pukul 05.00 WIB. Padahal, panitia sudah berulang kali mengingatkan bahwa seluruh proses administrasi bersifat daring. Namun, tingginya tingkat kekhawatiran akan kegagalan membuat banyak keluarga memilih datang langsung untuk memastikan berkas mereka lolos verifikasi.

“Sejak pagi sudah padat, kebanyakan konsultasi soal peluang lolos dan strategi jalur yang paling aman,” ujar salah satu petugas loket yang enggan disebutkan namanya.

Jalur Rapor Jadi Primadona, Persaingan Super Ketat

Dari total 408 pendaftar di SMAN 2, mayoritas memilih jalur prestasi akademik berbasis nilai rapor, yakni mencapai 324 peserta. Sementara itu, jalur non-akademik baru diisi 68 pendaftar, dan jalur Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CIBI) hanya diminati 11 orang.

Ketimpangan ini membuat kuota jalur rapor sudah kelebihan muatan (overload) bahkan sebelum pendaftaran resmi ditutup. Sementara itu, sejumlah jalur lain justru masih menyisakan banyak kursi kosong.

“Pola pikir masyarakat masih terpaku pada nilai akademik sebagai penentu utama. Akibatnya, banyak yang menumpuk di satu jalur tanpa melihat alternatif lain yang sebenarnya peluangnya lebih besar,” kata seorang pengamat pendidikan setempat.

Nilai TKA Jadi Kendala, Sekolah Belum Terima Data

0 Komentar