Buntet Pesantren Diusulkan Untuk Lokasi Muktamar NU – Video

Buntet Pesantren Diusulkan Untuk Lokasi Muktamar NU
0 Komentar

Pondok Pesantren Buntet, Kabupaten Cirebon, masuk dalam daftar lokasi yang akan disurvei oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai calon tuan rumah Muktamar NU ke-35. Pihak Buntet Pesantren menyatakan kesiapannya untuk menyambut tim survei, namun memberikan catatan kritis bahwa muktamar harus menjadi ajang memperkuat persatuan dan bukan arena pertentangan.

PBNU telah membentuk tim survei khusus untuk menentukan lokasi final penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 1 hingga 5 Agustus 2026. Di wilayah Jawa Barat, tim tersebut diagendakan meninjau tiga pondok pesantren besar di Cirebon, yaitu Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, dan Pondok Pesantren KHAS Kempek. Ketiga pesantren ini menjadi bagian dari sembilan pesantren di lima provinsi yang diusulkan sebagai kandidat kuat tuan rumah.

Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren, KH Arif Ni’matullah, menyambut baik masuknya Buntet Pesantren dalam daftar radar survei. Pihaknya membuka pintu selebar-lebarnya dan siap menerima kedatangan tim dari PBNU untuk menilai kesiapan sarana, prasarana, fasilitas akomodasi, maupun dukungan penuh pesantren apabila nantinya dipercaya memegang mandat sebagai tuan rumah.

Baca Juga:Harga Cabai Di Pasar Melambung, Petani Hanya Jual Rp17.000/Kg – VideoPemkot Genjot Pendapatan Asli Daerah – Video

Namun, sesepuh yang saat ini sedang berada di Samarkand, Uzbekistan, tersebut menegaskan bahwa Muktamar NU harus membawa semangat islah (perdamaian) dan persatuan, bukan justru memicu pertentangan atau konflik internal. Jika tujuannya adalah untuk islah, keluarga besar Buntet Pesantren akan menyambutnya dengan tangan terbuka.

KH Arif Ni’matullah berharap penuh agar muktamar yang akan dilaksanakan nanti benar-benar membawa spirit persaudaraan yang sejuk. Menurutnya, muktamar merupakan forum tertinggi organisasi yang esensinya harus melahirkan kemaslahatan bagi jam’iyah (organisasi) dan bangsa, bukan menjadi tempat pertarungan kepentingan politik praktis yang dapat memecah belah keutuhan umat.

Sebelumnya, PBNU menyatakan bahwa hasil dari tim survei lapangan ini akan dilaporkan dalam rapat harian Syuriyah dan Tanfidziyah untuk menentukan keputusan akhir. Parameter penilaian final meliputi kelayakan lokasi, aksesibilitas transportasi, kapasitas akomodasi penginapan, dukungan pemerintah daerah, kesiapan pesantren, serta hal yang paling utama yakni kesiapan spiritual.

0 Komentar