Petani tebu di wilayah Cirebon dan sekitarnya kembali menghadapi berbagai persoalan pelik yang dinilai mengancam keberlangsungannya usaha mereka. Rentetan masalah tersebut mulai dari keterlambatan jadwal tebang, dampak masif kebijakan impor gula rafinasi, hingga tuntutan transparansi bagi hasil kemitraan dengan pihak pabrik gula (PG).
Salah satu keluhan utama datang dari kalangan petani di wilayah Japura Kidul yang mempertanyakan lambatnya realisasi jadwal tebang di area lahan mereka. Keterlambatan tersebut sangat dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas tebu secara drastis, sehingga berdampak langsung pada merosotnya kadar rendemen dan berkurangnya pendapatan bersih yang diterima petani.
Selain persoalan teknis di lahan, kebijakan tata niaga terkait impor gula rafinasi juga menjadi sorotan tajam. Para petani menilai masuknya gula impor secara masif ke pasar domestik telah menekan harga jual gula produksi dalam negeri, sehingga penyerapan hasil panen tebu lokal menjadi tidak berjalan optimal.
Baca Juga:Jembatan Gorong-Gorong Pemicu Kecelakaan Mulai Diperbaiki – VideoPonpes Khas Kempek Siap Jika Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Muktamar NU – Video
Tak hanya itu, kendala teknis di tingkat pergudangan juga sempat menyebabkan ribuan ton gula milik petani tertahan dalam waktu lama. Mandeknya komoditas ini dipicu oleh peliknya proses administrasi serta lambatnya pengujian laboratorium. Kondisi tersebut otomatis mengganggu jalur distribusi nasional dan mengakibatkan kerugian materiil yang tidak sedikit bagi para petani.
Oleh karena itu, para petani sangat berharap pemerintah, manajemen pabrik gula, serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terkait dapat segera menghadirkan solusi konkret. Langkah cepat sangat dibutuhkan untuk membenahi sistem penjadwalan tebang, stabilisasi harga gula di pasaran, transparansi sistem kemitran, serta kelancaran distribusi hasil panen demi menjaga keberlangsungan swasembada sektor pergulaan nasional.