Jepang dan China Punya Pendekatan Berbeda
Bahlil menjelaskan bahwa persaingan antara teknologi hidrogen dan kendaraan listrik berbasis baterai sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.
Ia menyebut Jepang sebagai salah satu negara yang fokus mengembangkan teknologi hidrogen. Di sisi lain, China lebih banyak membangun ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai atau electric vehicle (EV).
Meski demikian, pemerintah Indonesia tidak ingin terpaku pada salah satu teknologi saja.
Indonesia Memilih Teknologi yang Menguntungkan Kepentingan Nasional
Baca Juga:Usai Uji Coba Kontra Bali United, John Herdman Fokus Tingkatkan Kualitas Timnas IndonesiaIndonesia Setop Impor Solar Tahun Ini, Bahlil: B50 Resmi Berlaku Mulai Juli 2026
Menurut Bahlil, arah kebijakan pemerintah akan ditentukan oleh beberapa prinsip utama, yaitu:
- Menggunakan energi yang lebih bersih.
- Mengutamakan efisiensi energi.
- Memanfaatkan sumber energi yang dapat dihasilkan di dalam negeri.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung target swasembada energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemerintah Siapkan Regulasi dan Infrastruktur Hidrogen
Untuk mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia, pemerintah tengah menyiapkan berbagai regulasi yang dapat menarik minat investor.
Selain itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga dilibatkan untuk mengembangkan inovasi teknologi yang mampu menekan biaya operasional hidrogen agar lebih ekonomis.
Bahlil menegaskan, percepatan pengembangan energi hidrogen membutuhkan dukungan dari berbagai aspek, mulai dari kemajuan teknologi, kesiapan pasar, kehadiran investor, hingga regulasi yang mendukung.
