Pengamat Pasar Modal UI, Budi Frensidy, juga menambahkan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga memperkuat posisi greenback di pasar global.
Respons BI: Tahan Suku Bunga, Perkuat Insentif
Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026. Suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,75 persen, sedangkan Lending Facility dipertahankan di level 6,50 persen.
Alih-alih menaikkan suku bunga lebih lanjut, BI memilih memperkuat sejumlah insentif untuk menarik arus modal asing. Langkah ini ditempuh agar stabilitas rupiah tetap terjaga tanpa kembali mendorong kenaikan suku bunga di dalam negeri.
Baca Juga:IHSG Menuju Pasar Bull: Reli 20 Persen dari Titik Terendah, Sinyal Pemulihan atau Jebakan?RI Resmi Luncurkan PFII: Pusat Finansial Kelas Dunia, Target Raih Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Insentif yang diberikan berupa kenaikan insentif bagi swap jual lindung nilai dari 10 persen menjadi 12,5 persen, serta perluasan insentif bagi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual lindung nilai sebesar 15 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo menilai pergerakan rupiah masih cukup terjaga hingga pertengahan Juli 2026. “Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880,” ujarnya.
Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menilai rupiah masih sulit menguat signifikan karena masih tingginya ketidakpastian geopolitik. Ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi juga membatasi penguatan rupiah. Namun, ia mencatat bahwa imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dan 2 tahun meningkat masing-masing menjadi 7,30 persen dan 7,08 persen, yang mempertahankan daya tarik imbal hasil aset rupiah.
Proyeksi ke Depan
Untuk perdagangan Jumat (24/7), para analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam tekanan. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprakirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Sementara itu, Pengamat Pasar Modal UI, Budi Frensidy, memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.980 per dolar AS.
