Rupiah Melemah ke Rp17.936 per Dolar AS: Konflik Timur Tengah dan Suku Bunga AS Jadi Biang Kerok

Ilustrasi rupiah
Ilustrasi rupiah hari ini anjlok ke Rp17.846 Foto: pexels
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Nilai tukar rupiah kembali terperosok di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026), mata uang Garuda melemah 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.936 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi setelah rupiah sempat menguat tipis di sesi pagi ke level Rp17.914 per dolar AS.

Sepanjang hari, rupiah bergerak fluktuatif namun akhirnya ditutup di zona merah. Data Bloomberg menunjukkan rupiah spot ditutup di level Rp17.936 per dolar AS, sementara kurs JISDOR Bank Indonesia juga melemah ke posisi Rp17.919 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.909 per dolar AS. Posisi ini masih berada di bawah level akhir Juni 2026 yang sebesar Rp17.880 per dolar AS, menandakan tren pelemahan masih berlanjut.

Dua Faktor Utama Penekan Rupiah

Pengamat pasar keuangan menyebut setidaknya ada dua faktor utama yang menjadi biang kerok pelemahan rupiah hari ini.

Baca Juga:IHSG Menuju Pasar Bull: Reli 20 Persen dari Titik Terendah, Sinyal Pemulihan atau Jebakan?RI Resmi Luncurkan PFII: Pusat Finansial Kelas Dunia, Target Raih Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Militer AS dilaporkan telah melancarkan serangan terhadap Iran selama 12 malam berturut-turut. Kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di kawasan Laut Merah. Kondisi ini mengancam pasokan minyak global melalui dua jalur utama perdagangan minyak dunia sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.

Imbasnya, harga minyak mentah dunia melonjak menembus US$90 per barel. Bagi Indonesia sebagai negara importir minyak bersih, kenaikan harga minyak mentah dapat memperluas tagihan impor, meningkatkan biaya subsidi energi, dan menambah tekanan harga. Hal ini pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa rupiah masih akan tertekan apabila harga minyak dunia terus meningkat.

Kedua, ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi. Pasar saat ini masih memperkirakan setidaknya terdapat satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun, sementara bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan. Research & Development ICDX, Tiffani Safinia, menyatakan bahwa ekspektasi ini mendorong aliran dana global tetap mengarah ke aset berbasis dolar sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

0 Komentar