Rupiah Kembali Tembus 18.000 per Dolar AS! Ini 3 Biang Kerok Melemahnya Rupiah Hari Ini

Ilustrasi uang Rupiah
Ilustrasi uang Rupiah foto : pexels
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Kabar kurang menggembirakan datang dari pasar keuangan Tanah Air. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menembus level psikologis 18.000 pada perdagangan Senin (27/7/2026). Rupiah ditutup melemah 46 poin atau 0,26 persen ke posisi Rp 18.009 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.963 .

Pelemahan ini juga tercermin dari kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang bergerak turun ke level Rp 17.995 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.973 . Lantas, apa saja penyebab rupiah kembali terpuruk?

1. Ancaman Kenaikan Suku Bunga The Fed

Analis menilai pelemahan rupiah hari ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral AS, the Federal Reserve (the Fed). Pelaku pasar masih terikat pada narasi the Fed yang cenderung hawkish atau cenderung menaikkan suku bunga .

Baca Juga:Presiden Prabowo Minta Kampus dan PT PAL Kolaborasi, Target Indonesia Kuasai Industri Kapal Sendiri!Harga BBM Pertamina 27 Juli 2026: Pertamax Rp 16.250, Biosolar Rp 6.800, Ada yang Turun! Cek Daftar Lengkapnya

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada September 2026 mendatang . Sementara itu, pada pertemuan 28-29 Juli 2026, the Fed diprediksi akan mempertahankan suku bunga. Ketidakpastian ini membuat investor lebih memilih dolar AS sebagai aset aman.

2. Konflik Geopolitik Gangguan Rantai Pasok

Sentimen negatif juga datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Perang antara AS dengan Iran serta konflik Houthi Yaman dengan Arab Saudi menyebabkan gangguan rantai pasok komoditas. Jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb melambat, memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan dan mendorong harga komoditas naik .

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai ketidakpastian global akibat konflik geopolitik ini menjadi tekanan utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah . “Siapapun yang memimpin Bank Indonesia saat ini sangat sulit untuk membuat rupiah kembali mengalami penguatan,” ujarnya .

3. Pergantian Gubernur BI di Tengah Tekanan

Dari dalam negeri, sentimen berasal dari pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti akan menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga gubernur definitif ditetapkan .

Namun, Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah bukan karena pengunduran diri Perry Warjiyo. Menurutnya, Perry telah bekerja keras menahan pelemahan rupiah, tetapi tekanan global membuat ruang gerak kebijakan moneter menjadi terbatas .

0 Komentar