Mengenal Museum Pangeran Cakrabuana Cirebon, Merawat Budaya, Lestarikan Batik hingga Topeng

Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon
Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon (baju coklat) melihat koleksi Museum Pangeran Cakrabuana
0 Komentar

Pembangunannya dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan anggaran pemerintah daerah. Dalam perkembangannya, pemerintah pusat turut memberikan dukungan terhadap pembangunan dan pengembangan museum.

Museum Pangeran Cakrabuana kemudian diresmikan pada 2 April 2014 oleh Bupati Cirebon.

Nama Pangeran Cakrabuana yang digunakan sebagai nama museum juga memiliki alasan historis.

Pangeran Cakrabuana dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Cirebon. Dalam sejumlah sumber tradisional Cirebon, tokoh tersebut disebut sebagai salah satu pendiri Cirebon.

Baca Juga:Disbudpar Dorong Kolaborasi Lintas OPD Lestarikan Gerabah Sitiwinangun – VideoDisbudpar Gelar Seminar Hasil Kajian Gamelan Renteng Cirebon – Video

Referensi mengenai Pangeran Cakrabuana antara lain terdapat dalam Babad Cirebon koleksi Brandes yang diterbitkan Rinkes pada 1911.

Nama Pangeran Cakrabuana juga berkaitan dengan Carita Purwaka Caruban Nagari, yang menurut Atja ditulis Pangeran Arya Carbon pada 1720 dengan merujuk pada Nagarakretabhumi.

Penggunaan nama tersebut menjadi bagian dari identitas museum sekaligus pengingat bahwa perkembangan kebudayaan Cirebon tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarahnya.

Koleksi Museum Pangeran Cakrabuana tersebar di dua lantai.

Di lantai pertama terdapat koleksi batik, termasuk Batik Trusmi dan Batik Ciwaringin. Pengunjung juga dapat menemukan busana pengantin, busana tari, keris, Berokan, Topeng, serta Kedok Wayang Wong.

Sementara lantai kedua menyimpan koleksi Wayang Kulit Cirebon, Wayang Golek Sunda, Wayang Golek Cepak, gamelan Cirebon, lukisan kaca, dan gerabah.

Keragaman koleksi tersebut menggambarkan luasnya perkembangan seni dan budaya yang hidup di Cirebon.

Salah satu koleksi yang memiliki cerita menarik adalah Wayang Kulit Cirebon. Dalam tradisi tertentu, wayang tersebut diyakini dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Baca Juga:Viral di Mana-Mana! “Kasih Aba-Aba 2.0” Shopee 9.9 x Naykilla & Tenxi Cetak Belasan Juta Views!Bambang Mujiarto : Pendidikan Demokrasi Bukanlah Untuk Memilih Siapa Tapi Memahami Mengapa Seseorang Memilih

Namun terdapat pula pandangan lain yang menyebut pembuatnya adalah Ki Kaca, yang disebut sebagai keturunan Sunan Kalijaga.

Perbedaan versi mengenai asal-usul tersebut menjadi bagian dari pengetahuan yang masih dapat dikaji lebih jauh.

Koleksi lain yang menarik adalah lukisan kaca yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19, sekitar 1890-an. Koleksi tersebut menjadi salah satu penanda perkembangan awal tradisi lukisan kaca di Cirebon.

Museum juga memiliki sejumlah koleksi keris yang dinilai memiliki nilai tinggi oleh kalangan pegiat dan pemerhati keris.

Meski demikian, museum belum menetapkan koleksi tertentu sebagai masterpiece dalam pengertian koleksi unggulan utama yang memperoleh perlakuan khusus dalam tata pamer dan pengamanan.

0 Komentar